Senin, 31 Desember 2012

KERAJAAN YANG TERLUPAKAN DI UJUNG BIBIR PASIFIK

 

Pengantar,
Secara khusus, bagian yang membahas tentang eksistensi kerajaan Moro adalah saduran ulang dari Buku Kepulauan Rempah-Rempah (Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950), karangan M. Adnan Amal, tahun 2007. Dengan penelitian historis yang panjang, penulis berhasil mengungkap perjalanan sejarah Maluku Utara yang begitu mendetail. Salah satu fakta yang diungkap penulis adalah menyangkut dengan eksistensi kerajaan-kerajaan kecil di Maluku Utara, selain Jailolo, Ternate, Tidore dan Bacan, yakni kerajaan Loloda, Moro dan Obi.
Dari ketiga kerajaan kecil di atas, kerajaan Moro nampaknya mengalami kehilangan jejak langkahnya, sebagai akibat dari ekspansi kerajaan Ternate. Namun begitu, sejarah tidak dapat diputar kembali, namun juga tidak dapat dihilangkan begitu saja. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya mencoba untuk melakukan saduran kecil terhadap berbagai fakta sejarah yang terungkap dalam penelitian Adnan Amal tersebut.
Eksistensi Kerajaan Moro
Kerajaan Moro terletak di daratan pantai timur Halmahera Utara, mulai dari tanjung Bisoa di utara sampai Tobelo. Karena letaknya di daratan Halmahera ia disebut juga dengan Morotia (Moro daratan). Sebagian lagi wilayahnya terletak di pulau seberang laut yang dinamakan Morotai (Moro lautan). Karena itu, Kerajaan Moro berwilayahkan Moro daratan (Morotia) dan Moro lautan (Morotai). Ibukota kerajaan Moro adalah Mamuya, terletak di Morotia, sekarang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Galela.
Sebagaimana Loloda, tidak diketahui secara pasti kapan Kerajaan Moro berdiri dan siapa pendirinya. Menurut Prof.A.B.Lapian, dalam salah satu tulisannya paling akhir tentang kerajaan Bacan, kerajaan Moro sama tuanya dengan kerajaan Loloda dan kerajaan Jailolo. Kota-kota penting Kerajaan Moro, selain Mamuya, adalah Sugala, Pune (Galela), Tolo, Cawa, Samafo (Tobelo), Sakita, Mira, Cio dan Rao (Morotai).
Pada masa kekuasaan Portugis, Moro berada dibawah perintah seorang raja bernama Tioliza. Penduduk Kerajaan Moro sebagiannya memeluk agama Islam, sebagian lagi beragama Katolik, dan lainnya memiliki kepercayaan animisme. Secara etnografis, penduduk Kerajaan Moro terdiri dari etnis Galela dan Tobelo, baik di Morotia ataupun di Morotai. Sampai perempatan ketiga abad ke-16, kerajaan ini masih eksis. Moro adalah penghasil beras terbesar di Maluku dan oleh karenanya merupakan gudang pangan beras dan sagu serta ikan dan daging – yang menyuplai kebutuhan pangan kota Ternate. Kerajaan ini mendapat kesulitan karena kerajaan besar seperti Ternate ingin mencaploknya. Selain Ternate, Moro juga diincar Jailolo.

Orang-orang Ternate memperlakukan rakyat Moro seperti budak, merampas hasil-hasil pertanian dan perkebunan mereka. Mereka sering harus lari ke hutan karena rumah dan kampung halamannya diserang dan dibakar. Pada suatu hari, keadaan yang tidak menentramkan ini dituturkan Raja Tioliza kepada Gonsalo Veloso, seorang pedagang Portugis yang mengunjungi Mamuya. Pedagang Portugis itu menasehati Raja Moro agar beralih ke agama Kristen dan meminta pelindungan tentara Portugis.
Ketika Veloso kembali ke Ternate, Raja Moro mengirim beberapa orang untuk melaporkan situasi Moro kepada Gubernur Portugis dan menyampaikan keinginan mereka memeluk agama Kristen. Gubernur Triastao D’Atayde menyambut hangat dan menerima permohonan mereka. Para utusan yang diterima di benteng Gamlamo itu kemudian dibaptis sebelum bertolak kembali ke Moro.
Setiba kembali di Mamuya, para utusan itu melaporkan semua sambutan yang mereka peroleh di Ternate. Setelah menerima laporan, Raja Moro mengundang para bobato-nya dan membahas laporan utusan mereka yang kini telah memeluk Kristen. Diputuskan bahwa Raja dan para bobato akan segera ke Ternate untuk dibaptis. Selang beberapa minggu kemudian, Raja Moro dan bobato-nya berikut beberapa pengiring telah berada di dalam benteng Gamlamo serta diterima Gubenur Atayde dan para misionaris. Dalam suatu upacara megah, Raja Moro – yang mengenakan pakaian bangsawan Portugis pemberian Atayde – berikut para bobato dan pengiringnya dibaptis oleh Frater Simon Vaz. Raja Moro memperoleh nama baptis Don Joao de Mamuya. Dengan pembaptisan ini, Raja Moro memperoleh ketenangan batin karena ibukota kerajaannya akan memperoleh bantuan pasukan Portugis untuk menangkal serangan-serangan orang Ternate yang bermukim di Galela dan beragama Islam. Beralihnya Raja Moro ke dalam agama Kristen segera diikuti rakyat di ibukotanya, Mamuya, dan terbentuklah komunitas Kristen pertama di kerajaan Moro di kota itu.
Berita pembaptisan Raja Moro segera menyebar ke Morotia dan Morotai. Sangaji Tolo, pemimpin sebuah pemukiman terbesar Moro yang terletak kira-kira 5 kilometer di selatan Mamuya, segera mengikuti jejak rajanya dan beserta beberapa pengiringnya berangkat ke Gamlamo untuk dibaptis. Ia kemudian dikenal dengan nama baptis Don Atayde de Tolo.
Misi katolik di Gamlamo lalu mengutus Frater Simon Vaz ke Mamuya dan Tolo. Simon Vaz berhasil ‘merombak’ tradisi orang-orang Morotia dan merekonstruksinya dengan iman Kristiani. Untuk kebutuhan rohani umatnya, dua buah gereja dibangun di Mamuya dan Tolo. Sampai 1535, selain di Mamuya dan Tolo, pusat-pusat Kristen telah berdiri di Cawa, Samafo, Pune, Loqui (Aru), Sugala, Cunialonga (Lolonga), Todoku (Tutumaloleo) dan Bisoa – semuanya di Morotia. Sementara di Morotai, pusat-pusat serupa terdapat di Sakita, Mira, Sopi, Cio, Hapo, Wayabula, Pilowo, dan Rao.
Pesatnya penyebaran Kristen di Moro telah menimbulkan kecemasan Sultan Khairun. Ia lalu mengundang para sultan Maluku dalam suatu petemuan rahasia yang memutuskan untuk “mengenyahkan orang-orang Kristen dari Moro”. Katarabumi, Raja Jailolo yang berambisi mengambil alih Moro, mengerahkan pasukan Alifurunya menyerang Morotia, mulai dari Sugala sampai ke Mamuya dan Tolo. Ketika mengepung Mamuya, rakyat Moro hendak meneruskan perlawanannya, tetapi Raja Moro menolak pelawananan dan memilih menyerah. Ia takut penyerbu akan membakar habis ladang padi dan kebun kelapa mereka. Dengan jatuhnya Mamuya, komunitas Kristen di utara Halmahera (Morotia) segera menyerah, dan sejak itu tidak ada lagi Pastor Katolik yang mengunjungi Moro sampai Franciscus Xaverius bertandang ke sana pada 1546.
Konversi orang Moro ke agama Kristen pada paruh pertama abad ke-16 telah menciptakan persekutuan yang efektif bagi keuntungan Portugis. Akan tetapi, pemukiman-pemukiman Kristen selalu menjadi target serangan tentara kerajaan Muslim, khususnya Jailolo di bawah Katarabumi dan Ternate di bawah Babullah.
Ketika Babullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate pada 1570, ia melanjutkan perang terhadap Portugis yang telah dikobarkan pendahulunya, Khairun. Peperangan ini berhasil dimenangkannya dan mengakibatkan Portugis terusir dari sebagian besar wilayah Maluku. Misi Jesuit Moro, yang di zaman Khairun banyak memperoleh bantuan dan kemudahan, mulai surut pada masa Babullah. Para pastor mulai meninggalkan Kerajaan Moro menuju Ternate, dan pada 1574 meninggalkan Maluku.
Pada perempatan terakhir abad ke-16, Babullah menggabungkan Kerajaan Moro ke dalam wilayah kekuasaan Ternate. Ia mengirim ekspedisi militer ke Galela, kemudian ke Tolo (Tobelo), dan ke Morotai. Walaupun pasukan Babullah menemui perlawanan sengit di Tolo, pusat Misi Jesuit di Kerajaan Moro, seluruh wilayah Moro akhirnya berhasil ditundukbawahkan ke dalam Kesultanan Ternate. Eksistensi Kerajaan Moro pun berakhir. Walaupun sudah berakhir, namun salah satu keunikan kerajaan Moro yang tak dapat dipungkiri kala itu adalah kekristenannya.
Mencari Jejak Langkah Kerajaan Moro: Sebuah Implikasi Kebijakan
Apakah dengan berakhirnya keberadaan kerajaan Moro, maka dengan sendirinya akan hilang dimata masyarakat? Sudah tentu jawabannya tidak. Keberadaan sebuah nilai yang dianut pada saat itu, dengan sistem yang telah terbentuk, tidak akan dengan mudah hilang tanpa bekas dalam kehidupan masyarakat. Tergantung bagaimana masyarakat mengelola dan menyikapi keberadaan nilai dan sistem tersebut.
Dalam garis pemikiran tersebut, maka jejak langkah kerajaan Moro harus diperhitungkan kembali. Ini dimaksudkan bukan untuk sekedar “romantisme budaya”, melainkan upaya yang dengan sadar dilakukan untuk mengembalikan fakta sejarah yang pernah dijalani oleh masyarakat di Halmahera Utara. Pengembalian fakta sejarah semacam itu dilakukan untuk memberikan dasar identitas kultural yang sempat hilang.
Pengakuan akan keberadaan nilai masyarakat ini juga untuk meredam berbagai konflik budaya dan kecemburuan sosial yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Karena fenomena konflik sering bermula dari pertentangan identitas yang tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat lain, dan bahkan juga para penguasa.
Dalam kacamata seperti itu, maka pemerintah Halmahera Utara, dalam kapasitasnya untuk melakukan pembaharuan di Halmahera Utara, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harus merekonstruksi nilai-nilai sejarah yang telah ada di sekitar Halmahera Utara. Pemerintah seyogyanya tidak tenggelam dalam program pembangunan secara fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan pembangunan nilai-nilai budaya dan sejarah.
Jika kedua hal ini dilakukan, maka apa yang dibangun akan dengan sendirinya bisa bertahan lama. Sebab pembangunan secara fisik, yang tidak dilandaskan dengan pembangunan nilai, maka lambat laun pembangunan fisik itu pun akan runtuh dengan sendirinya, karena masyarakat kehilangan identitas kulturalnya. Apalagi dengan kondisi globalisasi yang semakin menghantam seluruh aspek kehidupan manusia. Harus disadari bahwa keberhasilan Bali sebagai “surga dunia”, dan Yogyakarta sebagai “taman dunia”, tidak berangkat dari pembangunan fisik belaka, melainkan memiliki dasar, yaitu nilai-nilai lokal masyarakat sendiri.
Hemat saya, Pemda Halmahera Utara, melalui Dinas Pariwisata, harus melakukan beberapa hal penting, diantaranya adalah:
1. Memfasilitasi penelitian-penelitian sejarah lokal, guna menambah referensi sejarah yang telah ada.
2. Mendorong masyarakat lokal untuk menulis apa yang diketahui tentang pengalaman-pengalaman historis mereka.
3. Mensosialisasikan nilai-nilai lokal yang dimiliki oleh masyarakat.
4. Mencari jejak langkah kerajaan Moro yang telah hilang.
Rekonstruksi sejarah kerajaan Moro perlu dilakukan untuk melihat sistem sosial pada saat itu, terutama ketegangan yang sering dialami kerajaan ketika dihancurkan oleh Ternate. Dan juga melihat sejauh mana keunikan Kerajaan Moro dengan Kekristenannya yang lenyap digantikan dengan Islam, sebagai konsekuensi dari daerah kekuasaan Ternate, dibawah Babullah.
Sumber : http://www.halmaherautara.com/artikel.php?id=84
Penulis : Anthon Alberth Ngarbingan

Changa Tuzere: Penemuan Kota Tua Di Dunia Di Bawah Laut

Changa Tuzere: Penemuan Kota Tua Di Dunia Di Bawah Laut: Para geo-arkeologi laut kembali membuat prestasi besar dengan keberhasilannya mengungkap keberadaan kota kuno yang terendam di bawah ...

Kisah Menakjubkan 8 Kota Yang Terbenam Di Dasar Laut

1.Kota Thira Tenggelam 3500 Tahun Silam (Lokasi antara Yunani dan Turki)

Kota Thira merupakan ibukota kerajaan Minoa, tenggelam hampir 3500 tahun silam. Penyelaman di laut Aegia antara Yunani dan Turki telah menemukan kembali kota bersejarah itu. Letaknya di dasar laut, dalam laguna pulau Santorin yang dulu merupakan gunung api setinggi 1500 meter di atas muka laut. Atlantis Sekitar tahun 1480 Sebelum Masehi, gunung Santorin purba itu meletus. Seperti juga letusan Krakatau Purba, gunungnya sendiri amblas membentuk semacam kaldera di dasar laut. Amblasnya gunung purba itu mendepak 62 milyar meter kubik air laut yang menghambur bergelombang-gelombang setinggi ratusan meter.

Tsunami ini melesat ke luar Laut Aegia ke segenap penjuru Laut Tengah dengan kecepatan 500 km/jam. Bencana alam inilah yang diduga merupakan bahan mentah kisah filsuf Yunani Plato tentang "benua Atlantis yang hilang". Setelah penyelaman dan penggalian ahli-ahli arkeologi Universitas Athena menemukan kota Thira yang masih utuh di dasar laut, banyak orang mengambil kesimpulan: itulah 'benua Atlantis yang hilang' itu.

Seperti digambarkan oleh George Pararas-Carayannis, Direktur Pusat Informasi Tsunami Internasional di Honolulu, kebudayaan kerajaan yang lenyap ditelan bah itu memang sudah lumayan tingginya. Gedung-gedungnya, ada yang bertingkat satu, dua dan tiga. Di dalamnya ditemukan banyak artifak Minoa dan alat-alat rumah tangga. Tapi kerangka manusia, tak satu pun yang ditemukan di situ.

Ada kemungkinan, penduduk kota Minoa sudah mengenal sistim tanda bahaya sebelum gunung api meletus, sehingga mereka punya cukup waktu mengungsi dari pulau itu.

2.Kota Kuno Alexandria Tenggelam 1600 Tahun Lalu (Mesir)

1600 tahun lalu kota kuno Alexandria, Mesir, tenggelam karena gempa bumi dan tsunami yang melanda daerah itu. Kota bersejarah itu telah ditemukan termasuk sejumlah sisa-sisa reruntuhan kota yang menjadi jejak sejarah kota kuno itu.

Kota Alexandria merupakan kediaman Cleoptra, ratu mesir yang terkenal. Kota itu juga menjadi saksi sejarah hubungan Cleopatra dengan Julius Caesar, Marc Antony dan Octavius, semuanya adalah petinggi Kerajaan Romawi yang tergila-gila pada oleh Cleopatra.

Meski terbenam selama 1600 tahun, namuna jejak kemewahan istana-istana di Alexandria, masih bisa ditemukan oleh para arkeolog. Dikabarkan, ada sekitar 500.000 rumah ikut terbenam dalam bencana mengerikan kala itu. Ini diketahui dari 700.000 gulungan catatan yang ditemukandi perpustakaan. Ditemukan juga 25 sphinx, patung dewa-dewa juga patung Cleopatra.

Penggalian dipusatkan di bawah laut Pulau Antirhodus yang diperkirakan merupakan pusat istana sang ratu. Penemuan lainnya adalah kapal karam serta tiang granit merah, patung wajah ayah Cleopatra, King Ptolemy XII. Namun sebagian peninggalan itu diminta tidak dibawa naik ke darat karena Pemerintah Mesir menginginkan semua peninggalan pulau Cleopatra itu tetap di dasar laut. Pemerintah berniat menjadikan dasar laut itu sebagai museum di dalam air.

3.Port Royal, Pusat Perdagangan Abad Ke-17 (Jamaika)

Gempa bumi dahsyat telah menghancurkan sebuah kota yang gegap gempita, Port Royal, di Jamaika. Bukan hanya meluluhlantakan kota itu, tapi juga membenamkan semua yang ada di sana ke dasar laut. Dulunya, kota pelabuhan itu sangat terkenal sebagai sarang bajak laut, pelacuran, mabuk-mabukan.
Kota yang berada di Laut Karibia ini tenggelam hampir dua abad silam. Bandar itu dulu dikenal sebagai pusat perdagangan Spanyol yang paling terkenal di Karibia, bahkan di seluruh Amerika waktu itu. Menjelang senja hari, 7 Juni 1692, terasa bumi di bawah Port Royal menggeliat tiga kali, yang segera disusul gelombang pasang.

Tak ada lagi waktu untuk mengungsi. Sebab dalam beberapa menit saja, 90% dari kota bergedung 2000 itu -- kebanyakan bertingkat dua dan tiga -- atau amblas atau meluncur ke dalam laut. Lebih dari 2000 orang meninggal seketika. Kerugian harta benda tak tertaksir banyaknya. Catatannya kebanyakan tersimpan di arsip-arsip pemerintahan kolonial Spanyol.

Berpedoman pada arsip-arsip Spanyol itu, tahun 1966 pemerintah Jamaica mulai melancarkan operasi penyelaman dan penggalian besar-besaran untuk menemukan bandar abad ke-17 yang tenggelam itu. Walaupun lokasi kota di bawah-air itu tak terlalu dalam -- berkisar antara 1 sampai 20 meter -- sedang seluruh lokasi yang diselami 'hanya' 140 ribu mÿFD, toh penyelaman dan pengangkatan artifak-artifak Port Royal praktis makan waktu tiga tahun.



4.Kota Pantai Pulau Shihoku Tenggelam 1300 Tahun Silam (Jepang)

Seribu tahun yang silam, sebuahkota di pantai P. Shihoku yang kini menjadi Teluk Tosa, tenggelam ditelan gelombang pasang dan gempa bumi. Ada seribu keluarga anak manusia yang ikut tenggelam lantaran tak sempat melarikan diri dari serangan tsunami itu. Begitulah dongeng rakyat Jepang di kawasan itu, hampir mirip legenda hilangnya kota Atlantis di Laut Aegia, Yunani. Namun 15 tahun silam, sisa-sisa kota di dasar Samudera Pasifik itu ditemukan oleh beberapa penyelam secara kebetulan. Sejak saat itu, mulailah persiapan penyelidikan ilmiah untuk mencari kota yang persisnya hilang 1300 tahun silam.


5. Mahabalipuram Candi yang Berada di Dalam Air (India)

Menurut ‘legenda’nya Candi Tepi Laut yang terkenal dengan sebutan Mahabalipuram di pantai Tamil Nadu, bukanlah satu satunya candi tapi satu dari tujuh candi yang ada di sana, namun enam candi lain telah tenggelam. Kisah rakyat itu kemudian dibuktikan dengan ekspedisi tim arkeolog di lepas pantai dari Mahabalipuram, dan ditemukan sisa sisas batu, tembok, dll. Dikisahkan, pada abad ke 7, Dinasti Pallava yang memerintah daerah itu telah membuat banyak candidi antaranya Mahabalipuram dan Kanchipuram.

6.Yonaguni-Jima Tenggelam 2000 Tahun Lalu (Jepang)

Yonaguni-Jima letaknya dekat ujung selatan Kepulauan Ryukyu, Jepang, kira-kira 75 mil (120 kilometer) pantai timur Taiwan.Pulau Yonaguni digambarkan sebagai tempat yang luar biasa, namun daya tarik paling istimewa dari pulau ini adalah reruntuhan kota bawah laut yang berada di pantai selatan Yonaguni. Disebutkan kota ini tenggelam karena gempa bumi dan tsunami pada 2000 tahun lalu.

Ditemukan artefak dari lempengan batu yang masih kokoh, yang diduga menggunakan teknologi tinggi untuk mengukirnya. Artefak artefak yang ditemukan dipahat dengan lempengan batu yang sepertinya menggunakan peralatan yang belum ada pada zaman itu. Inilah yang menimbulkan keraguan sebagian peneliti, benarkah ini merupakan reruntuhan kota kuno???

Namun Masaaki Kimura, ahli geologi laut dari Universitas Ryukyu, Jepang, meyakini kalau reruntuhan itu merupakan kota kuno yang telah ada 5000 tahun lalu. Dia telah kerap bolak-balik menyelam ke sana dan telah 15 tahun melakukan penelitian terhadap reruntuhan kota itu.

7.Pavlopetri , Kota Pelabuhan Zaman Perunggu (Yunani)

Kota kuno Pavlopetri terdapat pada tiga sampai empat meter air saja di lepas pantai selatan Laconia di Yunani. Reruntuhan gedung sedikitnya ada 15 gedung yang masih terlihat bentuknya, masing-masing terdiri dari 3-4 kamar, jalan-jalan, bahkan kuburan masih bisa ditemukan. Dari penelitian ada perkiraan kalau kota ini telah ada pada 2800 SM namun ada pendapat lain bahwa kota lebih tua dari itu, yakni periode Mycenaean sekitar 1600-1100 BC. Yang menakjubkan, meski telah berusia ribuan tahun, namun struktur kota yg ditemukan terbilang utuh. Dari artefak tembikar yang ditemukan, diduga dibuat sekitar 1100 BC.

Diperkirakan, dulunya Pavlopetri adalah kota pelabuhan yang maju dan menjadi tempat berbisnis dengan penduduk setempat ataupun dengan pedagang di seluruh Mediterranean. Penemuan tempat ini menambah gambaran pengetahuan baru, khususnya tentang kehidupan masyarakat zaman perunggu.
Arkeolog Dr Jon Henderson, dari Universitas Nottingham, adalah arkeolog pertama untuk mempunyai akses resmi meneliti tempat itu. Ia mendapat izin istimewa dari pemerintah Yunani untuk meneliti kota di bawah laut itu.

Menurut Henderson, penemuan ini sangat langka dan penting. Penelitian perlu dilakukan seakurat mungkin sehingga didapat data yang benar.
8.Dwarka Port (India)

Di antara penemuan arkeologis yang paling menggairahkan adalah di India, yakni di lepas pantai Dwarka dan Bet Dwarka di Gujarat. Penggalian sudah berlangsung sejak 1983. Dua tempat ini adalah 30 km jauh dari satu sama lain. Dwarka di pantai laut Arab, dan bertaruh Dwarka di Teluk Kutch. Baik tempat ini dihubungkan dengan legenda mengenai Krishna baik maupun ada banyak candi di sini, kebanyakan kepunyaan titik pertengahan. Dinilai sebagai satu di antara tujuh kota yang paling kuno di Negara ini. Kota legendaris Dvaraka adalah tempat tinggal Lord Krishna.

Penemuan Kota Tua Di Dunia Di Bawah Laut

Para geo-arkeologi laut kembali membuat prestasi besar dengan keberhasilannya mengungkap keberadaan kota kuno yang terendam di bawah laut. Kota bernama Pavlopetri di Yunani ini diperkirakan eksis pada jaman perunggu yakni 5000-6000 tahun lalu atau 12000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan semula. Yang menarik, jejak keberadaan kota yang tenggelam 4-5 meter di bawah laut ini masih terlihat jelas, termasuk runtuhan bangunan serta benda-benda peninggalannya seperti tembikar, keramik, dll.
Para ahli memperkirakan, inilah kota bawah laut tertua di dunia yang berhasil ditemukan. "Diperkirakan kota yang tenggelam ini adalah kota pelabuhan. Hal ini ditandai dari bangkai kapal yang berada di dekatnya. Penemuan keramik zaman neolitikum, merupakan suatu yang luar biasa. Kota ini dulunya adalah tempat perdagangan barang dan jasa yang maju," ujar.Geo-arkeologi laut Dr Nic Flemming dari National Oceanography Centre, Southampton.
Pavlopetri terletak di kedalaman 3 - 4 meter di bawah
air tidak jauh dari pantai berpasir selatan Laconia.
Kotanya masih sangat lengkap. Bangunan rumah, jalan, halaman, gedung peribadahan, kuburan, semuanya sudah dipetakan menggunakan perlengkapan 3-D digital yang paling mutakhir.
Pavlopetri dulunya diperkirakan berasal dari periode Mycenaean (sekitar 1680-1180 SM), dari masa sejarah Yunani Kuno yang kaya akan kesusasteraan dan mitos. Dari benda-benda tembikar Neolitis yang baru saja ditemukan menunjukkan tempat ini mungkin telah ditempati sejak sedikitnya 2800 SM. Dengan mempelajari tempat bahari penting ini, peneliti berharap untuk dapat lebih mengerti tentang peninggalan dari masyarakat Yunani Zaman Perunggu.
Proyek pengungkapan kota ini dilaksanakan oleh suatu tim multidisipliner, termasuk Dr Flemming, yang dipimpin oleh Mr Elias Spondylis, Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic di Yunani dan Dr Jon Henderson, seorang arkeolog bawah air dari Departemen Arkeologi di Universitas Nottingham.
Kota kuno bawah air ini pertama kali ditemukan pada tahun 1967 oleh Flemming, kemudian di National Institute of Oceanography. Ia dulu memperkirakan kota itu berasal pada jaman perunggu 2000 BC. Flemming kemudian bergabung dengan tim dari Cambridge University pada1968, untuk melakukan penelitian.
Hasilnya diterbitkan oleh The British School di Athena pada tahun 1969, namun setelah itu tidak ada tindak lanjutnya. Penelitian itu ‘stag' selama 40 tahun, Sejak itu tidak ada lagi peneliti yang masuk ke sana untuk mengungkap misteri kota kuno itu. Tahun 70-an Flemming bergabung dengan arkeolog dari University of Nottingham dan Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic, kembali memulai penelitian pada situs kuno itu.
"Apa yang kami temukan di sini adalah sesuatu yang dua atau bahkan tiga ribu tahun lebih tua daripada sebagian besar kota terendam yang telah dipelajari," kata Flemming: "Dan uniknya, kami memiliki rencana kota yang lengkap, utama jalan-jalan dan semua bangunan domestik. Kita dapat mempelajari bagaimana itu digunakan sebagai pelabuhan, di mana kapal-kapal datang dan bagaimana perdagangan dikelola. " jelasnya.


Dr. Jon Henderson, seorang arkeolog dari Universitas Nottingham, bergabung memimpin penelitian dengan Elias Spondylis dari Benda Purbakala Bawah Air Ephorate bagian dari Kementrian Kebudayaan Hellenic di Yunani. Dr. Henderson adalah arkeolog pertama dalam 40 tahun yang mendapat surat izin resmi dari pemerintah Yunani untuk bekerja di sana.
"Hal ini sangat menggairahkan. Saya pernah membaca tentang situs ini ketika saya masih muda dan sulit dipercaya bahwa saya bukan hanya menyelam di sana tetapi juga berkesempatan untuk mengerjakannya. Kemudian kami menemukan sekitar 9.000 meter persegi gedung baru yang baru-baru ini tampak karena pergerakan di pasir, sungguh luar biasa," kata Dr. Henderson.

Rabu, 26 Desember 2012

Modernisasi, Urbanisasi, Modernisasi dan Pembangunan

Pengertian Modernisasi
Modernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari corak kehidupan masyarakat yang “tradisional” menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun di atas asumsi dan konsep-konsep evolusi bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah (linier), progresif dan berlangsung perlahan-lahan, yang membawa masyarakat dari tahapan yang primitif kepada keadaan yang lebih maju.
 Tradisionalitas
Istilah tradisional berasal dari kata Latin “traditum” yang artinya sesuatu yang diteruskan atau diwariskan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Sesuatu yang diwariskan dapat berupa:
  1. Sistem nilai, dapat berupa kepercayaan, keyakinan, agama, idea atau gagasan
  2. Cara hidup (oleh Emmile Durkheim disebut sebagai fakta sosial, yakni cara berfikir, berperasaan dan bertindak para warga masyarakat yang mengikat).
  3. Teknologi
  4. Lembaga atau pranata sosial
Suatu masyarakat dapat disebut sebagai masyarakat tradisional apabila hidup dengan sistem nilai, cara berfikir, berperasaan dan bertindak, teknologi dan lembaga atau pranata sosial yang diwariskan dan secara turun temurun dipelihara.
Contoh masyarakat tradisional: masyarakat atau komunitas desa.
Ciri-ciri tradisional masyarakat perdesaan:
Masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal pada suatu wilayah dengan batas-batas tertentu dan di antara para warganya mempunyai hubunganyang lebih erat dan mendalam daripada hubungannya dengan orang-orang yang berada di luar batas wilayahnya.
William F. Oughburn dan Nimkoff Meyer memberikan definisi bahwa desa adalah sebuah organisasi kehidupan sosial yang menyeluruh di dalam suatu wilayah dengan batas-batas tertentu (a total organization of social life within a limited area).
 Terdapat banyak macam desa, tetapi berikut ini dikemukakan tiga macam desa menurut perkembangannya:
  1. Desa swadaya, yaitu desa yang masih bersifat tradisional. Adat istiadat mengikat kuat. Mata pencaharian penduduknya semacam dan diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tingkat produktivitasnya rendah dan sarana kehidupannya kurang.
  2. Desa swakarya, yaitu desa yang adat istiadatnya sudah mulai mengalami perubahan karena pengaruh kebudayan dari luar desa yang telah mulai masuk. Lapangan pekerjaan dan mata pencaharian mulai terdiferensiasi dan  berkembang dari sektor primer ke sekunder. Produktivitas desa mulai meningkat seiring dengan mulai bertambahnya sarana dan prasarana desa.
  3. Desa swasembada, yaitu desa yang telah mengalami kemajuan, ikatan adat istiadat tidak kuat lagi, teknologi telah digunakan dalam proses produksi barang dan jasa, mata pencaharian masyarakatnya beraneka ragam. Sarana dan prasarana desa sudah memadai, bahkan di beberapa desa tidak dapat lagi dibedakan dari sarana dan prasarana kota, seperti: jaringan listrik dan telepon, air minum, jalan beraspal, angkutan umum, dan sebagainya.
Meskipun demikian ada beberapa ciri umum masyarakat desa, yaitu:
  1. Isolasi, yakni hubungan yang terbatas dengan orang-orang di luar desa, sebuah komunitas desa bisa jadi terpisah hubungannya dengan komunitas desa lain. Karena keterbatasan ini menjadikan seorang warga desa sangat mengenal warga desa yang lainnya seluruh aspek kepribadiannya, bukan hanya peran dan fungsinya dalam masyarakat.
  2. Homogenitas, yakni keseragaman yang relatif mengenai latar belakang etnik, keluarga maupun cara hidup di antara para warga desa
  3. Pertanian. Kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat desa identik dengan masyarakat pertanian. Tentunya pertanian dalam arti luas, yang menyangkut aktivitas bercocok tanam, beternak, memelihara ikan maupun berkebun. Kalaupun ada warga desa yang berstatus sebagai pegawai negara, guru, dokter, petugas keamanan, macam-macam tukang, dan sebagainya, tetapi mereka tetap terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas pertanian.
  4. Ekonomi subsisten, artinya aktivitas ekonomi masyarakat desa dioerientasikan kepada menghasilkan barang-barang dan jasa untuk mencukupi keperluan sendiri, tidak diorientasikan kepada ekonomi pasar.
Sebagai pembanding mengenai ciri-ciri masyarakat desa, berikut ini dikemukakan rincian yang dikemukakan oleh Roucek dan Warren:
  1. Masyarakat desa memiliki sifat yang homogen dalam hal mata pencaharian, kebudayaan dan tingkah laku
  2. Kehidupan masyarakat desa menekankan anggota keluarga sebagai unit ekonomi dan berperan dalam pengambilan keputusan
  3. Faktor geografi sangat berpengaruh atas kehidupan yang ada, misalnya keterkaitan anggota masyarakat dengan tanah atau desa kelahirannya
  4. Hubungan sesama warga desa lebih intim dan awet dari pada kota
Sedangkan Rogers mengemukakan ciri masyarakat desa, sebagai berikut:
  1. Mutual distrust interpersonal relations (rasa ketidakpercayaan timbal balik di antara warga desa berkaitan dengan sumber-sumber ekonomi desa seperti tanah)
  2. Perceived limited group (pandangan untuk maju yang sempit dan terbatas)
  3. Dependence on hostility towards government authority  (ketergantungan dan sekaligus curiga terhadap pemerintah atau kepada unsur-unsur pemerintah)
  4. Familiesm (adanya keakraban dan keintiman hubungan sosial di antara orang-orang yang memiliki hubungan darah)
  5. Lack of innovationess  (rasa enggan untuk menciptakan atau menerima ide baru)
  6. Fatalism (pandangan bahwa kegagalan atau keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh faktor eksternal dari pada faktor internal dalam diri warga masyarakat. Dalam hal ini Dr. Nasikun mengemukakan tiga macam bentuk fatalisme masyarakat perdesaan:
a)      supernaturalism, (keberhasilan atau kegagalan ditentukan oleh sesuatu yang bersifat supernatural/ghaib)
b)      situational fatalism (sikap apatis dan pasif terhadap kemungkinan perbaikan kehidupan karena kondisi atau situasi kehidupan tertentu, karena orang kecil, karena tanah pertaniannya sempit, dan sebagainya)
c)      project negativism (sikap apatis dan pasif terhadap inovasi atau pembaruan yang disebabkan oleh kegagalan-kegagalan yang telah dialami dan dihayati di masa silam
  1. Limited aspiration (adanya keterbatasan dan ketidakmampuan menyatakan dan menyalurkan keinginan-keinginan)
  2. Lack of deferred gratification (ketidakmampuan menunda kesenangan dan kenikmatan hidup sekarang, misalnya hasrat menabung atau berinvestasi)
  3. Limited view of this world (pandangan yang terbatas terhadap dunia luar)
  4. Low emphatic (yakni rendahnya ketrampilan “menangkap” peranan orang lain, misalnya ketidakmampuan memahami keadaan orang lain).
 Modernitas
Istilah modern berasal dari kata “modo” yang artinya “yang kini” (just now). Dengan demikian masyarakat dinyatakan modern apabila para warganya hidup dengan sistem nilai, cara berfikir, berperasaan dan bertindak, teknologi serta organisasi sosial yang baru, yang sesuai dengan konstelasi zaman sekarang. Contoh masyarakat modern adalah masyarakat kota.
Ciri-ciri Modern Masyarakat Kota
Memberikan definisi atau batasan tentang kota tidaklah mudah. Banyak aspek yang harus menjadi perhatian dan dapat menjadi dasar penyusunan batasan. Suatu masyarakat dinyatakan sebagai kota dapat karena kehidupan sosialnya, dapat karena keadaan budayanya, dapat karena kehidupan ekonominya, pemerintahannya, ataupun jumlah dan kepadatan penduduknya.
Prof. Bintarto memberikan batasan bahwa kota merupakan suatu jaringan kehidupan sosial dan ekonomi yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai oleh strata sosial dan ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistik.
Kota merupakan fenomena yang unik dan kontradiktif. Di satu sisi kota merupakan identifikasi kemajuan, kegembiraan dan daya tarik: sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan hiburan, kesehatan dan pengobatan, dan sebagainya.  Di sisi yang lain, kota ternyata identik pula dengan perilaku buruk, immoralitas dan bahkan kejahatan: hedonisme atau kemewahan hidup, pemuasan diri tanpa batas, kepura-puraan dan ketidakjujuran,
Beberapa ciri umum masyarakat kota dikemukakan sebagai berikut:
Anonimitas
Kebanyakan warga kota hidup dengan menghabiskan waktunya di tengah kumpulan manusia yang anonim. David Riesman menyebutnya sebagai “the lonely crowd”.  Heterogenitas kehidupan kota dengan keanekaragaman manusianya dari segi ras, etnisitas, kepercayaan, pekerjaan maupun kelas sosial mempertajam anonimitas. Perbedaan kepentingan membuat orang-orang kota lebih banyak berhubungan, berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama saja dengan membentuk special interested group (kelompok kepentingan khusus) dan tidak berkesempatan membentuk hubungan sosial yang bersifat akrab dan personal.
Jarak sosial yang jauh
Secara fisik orang-orang kota berada dalam jarak yang dekat dan keramaian, tetapi secara sosial, atau juga psikologikal, mereka saling berjauhan, sebagai akibat anonimitas, impersonalitas dan heterogenitas.
Regimentation (keteraturan hidup) kota
Irama dan keteraturan kehidupan kota berbeda dengan irama dan keteraturan hidup di perdesaan yang diwarnai oleh katidakformalan dan kesantaian, bersifat mekanik alamiah, sangat dipengarahui oleh keadaan alam dan cuaca serta jam biologis binatang atau ternak. Keteraturan hidup di perkotaan lebih bersifat organik, diatur oleh aturan-aturan legal rasional, seperti jam kerja, rambu-rambu dan lampu pengatur lalu-lintas, jadwal kereta api, jadwal penerbangan, dan sebagainya.
Keramaian (crowding)
Keramaian hidup di kota disebabkan oleh kepadatan, kecepatan dan tingginya aktivitas  kehidupan masyarakat kota.
Kepribadian kota
Sorokin, Zimmerman dan Louis Wirth dalam esainya “Urbanism as a Way of Life”  membuat kesimpulan bahwa kehidupan kota menciptakan kepribadian kota, yakni: anomies, materialistis, berorientasi kepentingan, berdikari (self sufficiency), impersonal, tergesa-gesa, interaksi sosial tingkat dangkal, manipulatif, rakayasa, insekuritas dan disorganisasi pribadi.
Proses modernisasi
Menurut Samuel Huntington proses modernisasi mengandung beberapa ciri pokok sebagai berikut:
  1. Merupakan proses bertahap, dari tatanan hidup yang primitif-sederhana menuju kepada tatanan yang lebih maju dan kompleks
  2. Merupakan proses homogenisasi. Modernisasi membentuk struktur dan kecenderungan yang serupa pada banyak masyarakat. Penyebab utama proses homogenisasi ini adalah perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Contoh: fenomena coca colonization, Mc world serta californiazation.
  3. Terwujud dalam bentuk lahirnya sebagai: Amerikanisasi dan Eropanisasi
  4. Merupakan proses yang tidak bergerak mundur, tidak dapat dihindrkan dan tidak dapat dihentikan
  5. Merupakan proses progresif (ke arah kemajuan), meskipun tidak dapat dihindari adanya dampak (samping).
  6. Merupakan proses evolusioner, bukan revolusioner dan radikal; hanya waktu dan sejarah yang dapat mencatat seluruh proses, hasil maupun akibat-akibat serta dampaknya
Alex Inkeles dan David Smith mengemukakan ciri-ciri individu modern, sebagai berikut:
  1. Memiliki alam pikiran (state of mind) yang terbuka terhadap pengalaman baru
  2. Memiliki kesanggupan membentuk dan menghargai opini
  3. Berorientasi ke depan
  4. Melakukan perencanaan
  5. Percaya terhadap ilmu pengetahuan
  6. Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu dapat diperhitungkan
  7. Menghargai orang lain karena prestasinya
  8. Memiliki perhatian terhadap persoalan politik masyarakat
  9. Mengejar fakta dan informasi

Modernisasi bukan westernisasi

Bahwa modernisasi itu identik dengan westernisasi memang pandangan yang tidak mudah dihindarkan. Hal ini karena sejarah modernisasi memang sejarah masyarakat Barat, dalam hal ini Eropa Barat dan Amerika Utara. Tema-tema yang menunjukkan ciri-ciri orang modern seperti yang diungkapkan oleh Inkeles dan Smith memang lebih banyak dimiliki oleh orang Barat, sehingga menjadi modern memang identik dengan menjadi seperti orang Barat. Namun demikian modernisasi dan westernisasi tetap dapat dibedakan karena memang berbeda. Seperti tersebut di depan bahwa tekanan proses modernisasi adalah pada teknologi dan organisasi sosial atau tata kerja. Dr. Nurcholish Madjid menyebutnya sebagai semacam proses rasionalisasi, yakni perubahan tata kerja lama yang tidak rasional diganti dengan tata kerja baru yang rasional. Sedangkan westernisasi adalah menjadi seperti orang Barat secara total, tanpa reserve, mulai dari pandangan hidup (ateisme, sekularisme, feminisme, humanisme, dan sebagainya) sampai dengan gaya hidupnya (seks bebas dan hidup bersama tanpa menikah (cohabitation), model pakaian yang tidak menutup atau bahkan menonjolkan aurat, NAPZA, gang, dan sebagainya).
Syarat berlangsungnya modernisasi
Modernisasi dalam masyarakat dapat berlangsung apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
  1. Terlembagakannya cara berfikir ilmiah di kalangan masyarakat, terutama di kalangan the rulling class
  2. Birokrasi pemerintahan yang rasional, efektif dan efiesien, bukan birokratisme
  3. Tersedianya sistem informasi yang baik: cepat dan akurat
  4. Iklim yang favorable terhadap modernisasi, hal ini terutama dengan hal-hal yang menyangkut  nilai atau sistem keyakinan
  5. Tingkat organisasi sosial yang tinggi
  6. Pelaksanaan social planning yang terbebas dari pengaruh atau kepentingan (vested interested) suatu golongan. Untuk hal ini diperlukan sentralisasi wewenang berkaitan dengan social planning.
Gejala Modernisasi Masyarakat Indonesia dalam Berbagai 
Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Modernisasi di bidang kehidupan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama menyangkut dua hal, yakni penemuan baru dan pembaruan.  Oleh karena itu, modernisasi di bidang IPTEK tidak dapat lepas dari perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengembangan akan mendorong ditemukannya ide-ide dan alat-alat baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat untuk melengkapi atau mengganti yang lama.
Bidang Kehidupan politik dan ideologi
Tema modernisasi di bidang politik dan ideologi adalah demokratisasi dan ideologi terbuka. Demokratisasi merupakan proses ke arah terbukanya kesempatan bagi seluruh warga masyarakat dari segala lapisan dan golongan untuk berperan serta dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
Sedangkan ideologi terbuka merujuk kepada pandangan hidup yang tidak terbatasi atau terkotak-kotak oleh sektarianisme, primordialisme, aliran, ras, etnisitas atau kesukubangsaan, kedaerahan, agama ataupun aliran.
Menurut Huntington, proses demokratisasi dan keterbukaan memerlukan beberapa prakondisi, yaitu:
  1. kemakmuran ekonomi dan pemerataan kekayaan; ada hubungan yang positif antara pembangunan dan pemerataan ekonomi dengan demokratisasi, artinya semakin maju tingkat ekonomi suatu masyarakat semakin besar peluangnya untuk menumbuhkan dan menegakkan tatanan kehidupan politik yang demokratis dan terbuka. Kemakmuran ekonomi akan memungkinkan tumbuhnya tingkat melek-huruf, pendidikan dan media massa yang sangat mendorong tumbuhnya demokrasi.
  2. Terdapatnya kelas menengah yang otonom dalam struktur sosial masyarakat. Mereka terdiri atas para kaum intelektual, pengusaha, profesional, tokoh agama atau etnis) yang berfungsi dalam pengendalian (kontrol) terhadap kekuasaan dan membangun prasarana dasar untuk tumbuhnya pranata politik yang demokratik. Apabila tidak terdapat kelas menengah tang otonomi masyarakat cenderung didominasi oleh suatu model kekuasaan yang sentralistik, seperti monarkhi, absolutisme, korporatik ataupun birokratik otoritarian.
  3. Lingkungan internasional; secara ringkas Huntington menyatakan bahwa demokrasi lebih merupakan hasil dari difusi dari pada sebagai akibat pembangunan, sehingga suatu masyarakat menjadi lebih demokratis ketika memiliki lingkungan pergaulan internasional yang luas
  4. Konteks budaya masyarakat yang bersifat egaliter. Konteks budaya feodal dan patrimonial ternyata menghambat demokratisasi.
Bidang Kehidupan Ekonomi
Tema modernisasi di bidang kehidupan ekonomi adalah efisiensi dan produktivitas.
Masalah yang banyak melanda di berbagai masyarakat berkembang adalah inefisiensi dan rendahnya produktivitas. Inefisiensi disebabkan oleh  ekonomi biaya tinggi (high-cost economy) di hampir semua bidang kehidupan. Sumber-sumber ekonomi biaya tinggi itu antara lain:
  1. birokratisme pemerintah
  2. pungutan-pungutan yang tidak berhubungan dengan produktivitas
  3. proteksi dan subsidi
  4. berbagai praktek bussiness atau economic criminality (white collar crime), seperti: nepotisme, kolusi dan korupsi (NKK).
Sedangkan produktivitas yang rendah disebabkan oleh teknik dan organisasi produksi yang usang.  Oleh karenanya peningkatan produktivitas dilakukan dengan memperbarui teknologi, baik teknologi mekanik (mesin-mesin produksi), teknologi kimia (penggunaan obat-obatan dan zat kimia) dan teknologi sosial (tata kerja yang lebih teratur dan organik).
Bidang kehidupan agama dan kepercayaan
Suatu proses yang tidak terhindarkan dan meresahkan para tokoh dan kalangan agamawan dalam proses modernisasi di bidang kehidupan beragama dan kepercayaan adalah sekularisasi.
Kata sekularisasi berasal dari kata “saeculum” yang artinya “dunia dalam konteks waktu”, yaitu “sekarang”.  (Dunia dalam konteks ruang dalam kata Latin adalah  “mundus”). Lawannya “saeculum” adalah “eternum” yang artinya “keabadian”. Dari kata “saeculum” tersebut terbentuklah istilah “sekularisasi” dan “sekularisme”.
Di Indonesia idea tentang “sekularisasi” diperkenalkan oleh seorang tokoh pembaruan pemikirian Islam, yakni Nurcholish Madjid pada tahuan 1970-an. Bagi Nurcholish Madjid, sekularisasi tidak sama dengan sekularisme. Sekularisasi adalah proses dan sekularisme adalah faham. Sekularisasi merupakan proses menuju kepada kehidupan beragama yang rasional, yakni proses pembebasan diri dari belenggu takhayul (superstition) atau memberikan wewenang kepada ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membina dan menyelesaikan urusan-urusan duniawi.  Di dalamnya tercakup sikap objektif dalam menelaah hukum-hukum yang menguasai dunia dan alam pada umumnya. Sedangkan sekularisme merupakan faham keduniawian, yakni suatu faham yang mengesampingkan agama.  Ada dua macam sekularisme, yakni: (1) sekularisme moderat dan (2) sekularisme mutlak. Sekularisme moderat merupakan pandangan yang mengakui keberadaan Tuhan untuk urusan-urusan yang berhubungan dengan kehidupan abadi (eternum) saja, sedangkan untuk urusan dunia adalah mutlak urusan manusia. Sedangkan sekularisme mutlak merupakan faham yang tidak mengakui adanya Tuhan, puncaknya adalah atheisme.
Namun demikian kenyataannya tidak dapat dihindarkan pengertian sekularisasi sebagai proses menuju atau penerapan faham sekularisme dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah timbulnya perbedaan pendapat dan kontroversi tentang sekularisasi. Untuk menghindari kontrovesi demikian ini, Dr. Kuntowijoyo menggunakan istilah objektivikasi untuk fenomena kehidupan beragama yang lebih rasional.
Modernisasi Masyarakat sebagai Proses Industrialisasi dan Urbanisasi
Modernisasi sebagai proses industrialisasi
Apabila melihat sejarah Eropa, maka modernisasi tidak lepas dari proses industrialisasi. Kesejahteraan ekonomi dan kestabilan politik di Eropa tercapai setelah terjadinya revolusi industri yang diawali oleh masa pencerahan (renaisance) dan penemuan-penemuan baru. Berdasarkan ini dapat dinyatakan bahwa awal modernisasi adalah industrialisasi, yakni berubahnya kehidupan dari “agraris-tradisional” menjadi “industri-modern”.
Talcott Parson menjelaskan proses perubahan  itu dalam teori  variabel pola (pattern variables) sebagai berikut:
  1. Perubahan dari affectivity kepada affective neutrality
  2. Perubahan dari particulatism ke universalism
  3. Perubahan dari collective orientation kepada self-orientation
  4. Perubahan dari ascription kepada  achievement
  5. Perubahan dari functionally difussed kepada functionaly specivied 
Modernisasi sebagai proses urbanisasi
Masyarakat modern juga identik dengan masyarakat kota, maka modernisasi identik dengan urbanisasi.
Dalam proses urbanisasi dikenal adanya tiga macam proses, yakni:
  1. Centripetal process; the flow of people from country sides to the urban area accompanied with the change in behavior.
Dalam proses ini terjadi aliran penduduk dari wilayah desa atau kota satelit menuju ke wilayah pusat kota yang diikuti oleh perubahan pola perilaku desa-tradisional dengan perilaku kota-modern.
Sebab-sebab aliran penduduk dari desa ke kota ini dapat digolongkan menjadi dua macam, yakni: (1) push factors (faktor pendorong), dan (2) pull factors (faktor penarik). Faktor-faktor pendorong meliputi kondisi desa yang menjadikan orang tidak mau lagi tinggal di desa, seperti: minimnya lapangan kerja, kekakangan adat, kurangnya variasi hidup, sempitnya kesempatan menambah pengetahuan, kurangnya sarana rekreasi ataupun sempitnya kesempatan mengembangkan keahlian dan ketrampilan. Sedangkan faktor penarik meliputi kondisi kota yang menjadikan orang-orang tertarik untuk tinggal menetap di kota, seperti: kesempatan kerja yang lebih luas, luasnya kesempatan mengembangkan ketrampilan dan keahlian, kesempatan dan fasilitas pendidikan yang lebih memadai, kelebihan modal, variasi hidup, banyaknya tempat hiburan, kebebasan hidup di kota dan anggapan bahwa kota memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi daripada desa.
  1. Centrifugal process; urban extention in terms of physical, economic, technology and culture.
Dalam proses ini yang terjadi adalah meluasnya pengaruh kehidupan kota ke wilayah-wilayah pinggiran kota, dapat berupa perluasan fisik kota yang diikuti oleh perubahan kehidupan ekonomi, penggunaan teknologi maupun perubahan kebudayaan.
  1. Vertical process: social, economic, culture, and behavior
Dalam proses ini yang terjadi adalah perubahan situasi atau iklim desa (rural sphere) menjadi kota (urban sphere), baik secara sosial, ekonomi, kebudayaan dan perilaku. Keadaan ini dapat terjadi antara lain oleh sebab-sebab:
  1. daerah itu menjadi pusat pemerintahan
  2. letaknya strategis untuk perdagangan
  3. tumbuhnya industri

 Masalah-masalah yang timbul akibat urbanisasi

Bertambahnya tingkat persaingan hidup di kota akibat urbanisasi, misalnya untuk  memperoleh sumber-sumber ekonomi dapat menimbulkan persoalan yang pelik, seperti berbagai macam konflik, tuna karya, kejahatan yang terorganisir (organized crime) maupun yang tidak terorganisir, perkampungan kumuh (slums), gelandangan, tuna susila, maupun rendahnya tingkat kesehatan, dan sebagainya.
Sedangkan bagi desa, urbanisasi menyebabkan terbatasnya jumlah penduduk usia produktif yang berakibat terhambatnya perkembangan desa. Di samping itu para urbanit yang pulang ke desa sering membawa pengaruh kehidupan kota (urbanisme) yang tidak selalu sesuai dengan kebudayaan orang desa.
 PEMBANGUNAN
Pembangunan merupakan perubahan sosial dengan ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Merupakan perubahan untuk mewujudkan suatu kondisi kehidupan yang lebih baik dari yang sekarang
  2. Meliputi seluruh aspek kehidupan: fisik, sosial, ekonomi, politik maupun kebudayaan
  3. Kuantitatif dan kualitatif
  4. Secara sadar dilakukan
  5. Menggunakan perencanaan (social planning)
  6. Menghasilkan perubahan sosial dan kebudayaan
  7. Dalam prosesnya memerlukan perubahan sosial dan kebudayaan
  8. Bermuara pada kondisi ideal (maka pembangunan merupakan proses yang tidak pernah selesai)
KONSEP TENTANG NEGARA BERKEMBANG
  1. Dulu pernah disebut “backward nations” dengan ciri:
  • Kemelaratan kronis
  • Kemelaratan tersebut bukan karena    tiadanya SDA, tetapi teknik produksi yg usang
  1. Istilah tersebut dinilai merendahkan dan tidak menghargai martabat bangsa-bangsa yang dimaksud, kemudian disebut “underdeveloped” atau “lower developed countries” (LDC), yg  dihadapkan dng developed atau more developed countries (MDC)
  2. Istilah diperbarui menjadi ”developing countries”= negara-negara sedang berkembang
  3. Dalam Konferensi Asia Afrika (Bandung, 1955), sebutan tersebut diubah menjadi “Negara-negara Selatan”. Di lain pihak adalah Negara-negara Utara. Latar belakang istilah ini adalah bahwa kenyataan sebagian besar negara-negara yang dimaksud berada di belahan bumi selatan, walaupun tidak semuanya. Australia meskipun berada di belahan bumi selatan, tetapi tidak termasuk kelompok negara-negara ini.
  4. Sebutan yang lain: DUNIA KETIGA. Sisi lain: DUNIA PERTAMA dan KEDUA. Dunia pertama adalah negara-negara maju, sedangkan dunia kedua adalah negara-negara sosialis di Eropa Timur.
 PERMASALAHAN DI NEGARA BERKEMBANG
  1. Tingkat kehidupan yang rendah
  2. Produktivitas yang rendah
  3. Pertumbuhan penduduk dan angka ketergantungan (Dependency Ratio) yang tinggi
Ketiga permasalahan ini melahirkan kemiskinan dan saudara kembarnya keterbelakangan, dan membentuk lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkalnya. Sehingga, permasalahan utama pembangunan negara-negara berkembang adalah bagaimana mengeluarkan orang dari lingkaran ini.
MACAM-MACAM KEMISKINAN
Menurut jenisnya:
  1. Absolut (mutlak)
  2. Relatif (nisbi)
  3. Subjektif
Menurut penyebabnya:
  1. Kemiskinan struktural
  2. Kemiskinan kultural
  3. Kemiskinan Natural
Penjelasan
  1. Kemiskinan Absolut
Ketika sumber daya ekonomi seseorang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya yang paling dasar. Patokannya adalah Garis Kemiskinan.
Garis Kemiskinan
Tentang garis kemiskinan Prof. Sayogya, menggunakan ukuran tingkat konsumsi yang ekuivalen dengan 240 kg beras/kapita/tahun di desa, atau 360 kg beras/kapita/tahun di kota.
Atau dapat juga menggunakan Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) yang ukurannya adalah kemampuan suatu keluarga memenuhi sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako). Wujud real KFM adalah ditetapkannya Upah Minimum Propinsi (UMP) yang sebelumnya disebut sebagai UMR (Upah Minimum Regional). Sebagai gambaran, pada tahun 2010 ini Serikat Pekerja Seluruh Indonesia menyepakati bahwa UMP Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar Rp802.000/pekerja/bulan, dengan asumsi seorang pekerja menanggung beban seorang isteri dan dua orang anak.
 Kemiskinan Relatif
Kemiskinan relatif merupakan kemiskinan akibat adanya perbandingan kelas-kelas pendapatan.  Pengertian kemiskinan relatif menurut BPS (2008) adalah “suatu kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan”.
Kemiskinan subjektif
Dalam pengertian kemiskinan subyektif, setiap orang mendasarkan pemikirannya sendiri dengan menyatakan bahwa kebutuhannya tidak terpenuhi secara cukup walaupun secara absolut atau relatif sebenarnya orang itu tidak tergolong miskin.
 Kemiskinan natural
Kemiskinan natural merupakan kemiskinan yang bersumber atau disebabkan oleh karenanya minimnya sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Kemiskinan cultural
Kemiskinan yang disebabkan oleh sikap hidup masyarakat yang diwarnai oleh The culture of Poverty (kebudayaan kemiskinan).
Pengertian budaya miskin (cultur of poverty) yang dikemukakan Oscar Lewis digunakan berbagai pihak sebagai rujukan untuk merumuskan pengertian kemiskinan cultural, termasuk oleh BPS. Menurut BPS (2008), ”kemiskinan kultural diakibatkan oleh faktor-faktor adat dan budaya suatu daerah tertentu yang membelenggu seseorang tetap melekat dengan indikator kemiskinan”, seperti
1)      sikap malas dan rendahnya etos kerja serta sikap pasrah menerima nasib
2)      mengutamakan status dari pada fungsi dan prestasi
3)      mentalitas meremehkan mutu
4)      sikap tidak disiplin dan tidak menghargai waktu
5)      sikap tidak jujur
6)      hidup bermewah-mewah (hedonis) dan boros; ketidakmampuan menunda kesenangan (affectivity)
7)      tiadanya sikap percaya diri (mentalitas bangsa terjajah)
8)      prasangka buruk terhadap perubahan dan pembangunan
 Kemiskinan struktural
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang ditengarai disebabkan oleh kondisi struktur atau tatanan kehidupan yang tidak menguntungkan, bukan oleh sebab-sebab atau  faktor-faktor yang alami atau faktor-faktor pribadi dari orang miskin itu sendiri, melainkan oleh sebab tatanan sosial yang tidak adil.
Tatanan yang tidak adil ini menyebabkan banyak masyarakat gagal untuk mengakses sumber-sumber yang dibutuhkan untuk mengembangkan dirinya maupun untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.
Faktor-faktor tersebut utamanya ditengarai berasal dari pemerintah dan struktur-struktur kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Faktor-faktor penyebab dalam pengertian kemiskinan struktural antara lain kebijakan sosial yang tidak berpihak kepada masyarakat, penguasaan sumberdaya secara berlebihan oleh pemerintah, pembangunan yang tidak dialokasikan secara adil dan terbatasnya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk berperan sebagai subjek dalam pembangunan.
Misalnya persoalan, mengapa seseorang menjadi penganggur. Sama sekali tidak disebabkan oleh sebab-sebab atau faktor-faktor yang bersifat individual, melainkan:
1)         Perubahan teknologi (mesin-mesin baru)
2)         Perubahan cara kerja (efisiensi)
3)         Pekerjaan dilakukan di tempat/negara lain (globalisasi)
4)         Perubahan politik (kebijakan pemerintah)
5)         Perubahan budaya (dibutuhkan produk yang berbeda)

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)