Senin, 31 Desember 2012

KERAJAAN YANG TERLUPAKAN DI UJUNG BIBIR PASIFIK

 

Pengantar,
Secara khusus, bagian yang membahas tentang eksistensi kerajaan Moro adalah saduran ulang dari Buku Kepulauan Rempah-Rempah (Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950), karangan M. Adnan Amal, tahun 2007. Dengan penelitian historis yang panjang, penulis berhasil mengungkap perjalanan sejarah Maluku Utara yang begitu mendetail. Salah satu fakta yang diungkap penulis adalah menyangkut dengan eksistensi kerajaan-kerajaan kecil di Maluku Utara, selain Jailolo, Ternate, Tidore dan Bacan, yakni kerajaan Loloda, Moro dan Obi.
Dari ketiga kerajaan kecil di atas, kerajaan Moro nampaknya mengalami kehilangan jejak langkahnya, sebagai akibat dari ekspansi kerajaan Ternate. Namun begitu, sejarah tidak dapat diputar kembali, namun juga tidak dapat dihilangkan begitu saja. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, saya mencoba untuk melakukan saduran kecil terhadap berbagai fakta sejarah yang terungkap dalam penelitian Adnan Amal tersebut.
Eksistensi Kerajaan Moro
Kerajaan Moro terletak di daratan pantai timur Halmahera Utara, mulai dari tanjung Bisoa di utara sampai Tobelo. Karena letaknya di daratan Halmahera ia disebut juga dengan Morotia (Moro daratan). Sebagian lagi wilayahnya terletak di pulau seberang laut yang dinamakan Morotai (Moro lautan). Karena itu, Kerajaan Moro berwilayahkan Moro daratan (Morotia) dan Moro lautan (Morotai). Ibukota kerajaan Moro adalah Mamuya, terletak di Morotia, sekarang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Galela.
Sebagaimana Loloda, tidak diketahui secara pasti kapan Kerajaan Moro berdiri dan siapa pendirinya. Menurut Prof.A.B.Lapian, dalam salah satu tulisannya paling akhir tentang kerajaan Bacan, kerajaan Moro sama tuanya dengan kerajaan Loloda dan kerajaan Jailolo. Kota-kota penting Kerajaan Moro, selain Mamuya, adalah Sugala, Pune (Galela), Tolo, Cawa, Samafo (Tobelo), Sakita, Mira, Cio dan Rao (Morotai).
Pada masa kekuasaan Portugis, Moro berada dibawah perintah seorang raja bernama Tioliza. Penduduk Kerajaan Moro sebagiannya memeluk agama Islam, sebagian lagi beragama Katolik, dan lainnya memiliki kepercayaan animisme. Secara etnografis, penduduk Kerajaan Moro terdiri dari etnis Galela dan Tobelo, baik di Morotia ataupun di Morotai. Sampai perempatan ketiga abad ke-16, kerajaan ini masih eksis. Moro adalah penghasil beras terbesar di Maluku dan oleh karenanya merupakan gudang pangan beras dan sagu serta ikan dan daging – yang menyuplai kebutuhan pangan kota Ternate. Kerajaan ini mendapat kesulitan karena kerajaan besar seperti Ternate ingin mencaploknya. Selain Ternate, Moro juga diincar Jailolo.

Orang-orang Ternate memperlakukan rakyat Moro seperti budak, merampas hasil-hasil pertanian dan perkebunan mereka. Mereka sering harus lari ke hutan karena rumah dan kampung halamannya diserang dan dibakar. Pada suatu hari, keadaan yang tidak menentramkan ini dituturkan Raja Tioliza kepada Gonsalo Veloso, seorang pedagang Portugis yang mengunjungi Mamuya. Pedagang Portugis itu menasehati Raja Moro agar beralih ke agama Kristen dan meminta pelindungan tentara Portugis.
Ketika Veloso kembali ke Ternate, Raja Moro mengirim beberapa orang untuk melaporkan situasi Moro kepada Gubernur Portugis dan menyampaikan keinginan mereka memeluk agama Kristen. Gubernur Triastao D’Atayde menyambut hangat dan menerima permohonan mereka. Para utusan yang diterima di benteng Gamlamo itu kemudian dibaptis sebelum bertolak kembali ke Moro.
Setiba kembali di Mamuya, para utusan itu melaporkan semua sambutan yang mereka peroleh di Ternate. Setelah menerima laporan, Raja Moro mengundang para bobato-nya dan membahas laporan utusan mereka yang kini telah memeluk Kristen. Diputuskan bahwa Raja dan para bobato akan segera ke Ternate untuk dibaptis. Selang beberapa minggu kemudian, Raja Moro dan bobato-nya berikut beberapa pengiring telah berada di dalam benteng Gamlamo serta diterima Gubenur Atayde dan para misionaris. Dalam suatu upacara megah, Raja Moro – yang mengenakan pakaian bangsawan Portugis pemberian Atayde – berikut para bobato dan pengiringnya dibaptis oleh Frater Simon Vaz. Raja Moro memperoleh nama baptis Don Joao de Mamuya. Dengan pembaptisan ini, Raja Moro memperoleh ketenangan batin karena ibukota kerajaannya akan memperoleh bantuan pasukan Portugis untuk menangkal serangan-serangan orang Ternate yang bermukim di Galela dan beragama Islam. Beralihnya Raja Moro ke dalam agama Kristen segera diikuti rakyat di ibukotanya, Mamuya, dan terbentuklah komunitas Kristen pertama di kerajaan Moro di kota itu.
Berita pembaptisan Raja Moro segera menyebar ke Morotia dan Morotai. Sangaji Tolo, pemimpin sebuah pemukiman terbesar Moro yang terletak kira-kira 5 kilometer di selatan Mamuya, segera mengikuti jejak rajanya dan beserta beberapa pengiringnya berangkat ke Gamlamo untuk dibaptis. Ia kemudian dikenal dengan nama baptis Don Atayde de Tolo.
Misi katolik di Gamlamo lalu mengutus Frater Simon Vaz ke Mamuya dan Tolo. Simon Vaz berhasil ‘merombak’ tradisi orang-orang Morotia dan merekonstruksinya dengan iman Kristiani. Untuk kebutuhan rohani umatnya, dua buah gereja dibangun di Mamuya dan Tolo. Sampai 1535, selain di Mamuya dan Tolo, pusat-pusat Kristen telah berdiri di Cawa, Samafo, Pune, Loqui (Aru), Sugala, Cunialonga (Lolonga), Todoku (Tutumaloleo) dan Bisoa – semuanya di Morotia. Sementara di Morotai, pusat-pusat serupa terdapat di Sakita, Mira, Sopi, Cio, Hapo, Wayabula, Pilowo, dan Rao.
Pesatnya penyebaran Kristen di Moro telah menimbulkan kecemasan Sultan Khairun. Ia lalu mengundang para sultan Maluku dalam suatu petemuan rahasia yang memutuskan untuk “mengenyahkan orang-orang Kristen dari Moro”. Katarabumi, Raja Jailolo yang berambisi mengambil alih Moro, mengerahkan pasukan Alifurunya menyerang Morotia, mulai dari Sugala sampai ke Mamuya dan Tolo. Ketika mengepung Mamuya, rakyat Moro hendak meneruskan perlawanannya, tetapi Raja Moro menolak pelawananan dan memilih menyerah. Ia takut penyerbu akan membakar habis ladang padi dan kebun kelapa mereka. Dengan jatuhnya Mamuya, komunitas Kristen di utara Halmahera (Morotia) segera menyerah, dan sejak itu tidak ada lagi Pastor Katolik yang mengunjungi Moro sampai Franciscus Xaverius bertandang ke sana pada 1546.
Konversi orang Moro ke agama Kristen pada paruh pertama abad ke-16 telah menciptakan persekutuan yang efektif bagi keuntungan Portugis. Akan tetapi, pemukiman-pemukiman Kristen selalu menjadi target serangan tentara kerajaan Muslim, khususnya Jailolo di bawah Katarabumi dan Ternate di bawah Babullah.
Ketika Babullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate pada 1570, ia melanjutkan perang terhadap Portugis yang telah dikobarkan pendahulunya, Khairun. Peperangan ini berhasil dimenangkannya dan mengakibatkan Portugis terusir dari sebagian besar wilayah Maluku. Misi Jesuit Moro, yang di zaman Khairun banyak memperoleh bantuan dan kemudahan, mulai surut pada masa Babullah. Para pastor mulai meninggalkan Kerajaan Moro menuju Ternate, dan pada 1574 meninggalkan Maluku.
Pada perempatan terakhir abad ke-16, Babullah menggabungkan Kerajaan Moro ke dalam wilayah kekuasaan Ternate. Ia mengirim ekspedisi militer ke Galela, kemudian ke Tolo (Tobelo), dan ke Morotai. Walaupun pasukan Babullah menemui perlawanan sengit di Tolo, pusat Misi Jesuit di Kerajaan Moro, seluruh wilayah Moro akhirnya berhasil ditundukbawahkan ke dalam Kesultanan Ternate. Eksistensi Kerajaan Moro pun berakhir. Walaupun sudah berakhir, namun salah satu keunikan kerajaan Moro yang tak dapat dipungkiri kala itu adalah kekristenannya.
Mencari Jejak Langkah Kerajaan Moro: Sebuah Implikasi Kebijakan
Apakah dengan berakhirnya keberadaan kerajaan Moro, maka dengan sendirinya akan hilang dimata masyarakat? Sudah tentu jawabannya tidak. Keberadaan sebuah nilai yang dianut pada saat itu, dengan sistem yang telah terbentuk, tidak akan dengan mudah hilang tanpa bekas dalam kehidupan masyarakat. Tergantung bagaimana masyarakat mengelola dan menyikapi keberadaan nilai dan sistem tersebut.
Dalam garis pemikiran tersebut, maka jejak langkah kerajaan Moro harus diperhitungkan kembali. Ini dimaksudkan bukan untuk sekedar “romantisme budaya”, melainkan upaya yang dengan sadar dilakukan untuk mengembalikan fakta sejarah yang pernah dijalani oleh masyarakat di Halmahera Utara. Pengembalian fakta sejarah semacam itu dilakukan untuk memberikan dasar identitas kultural yang sempat hilang.
Pengakuan akan keberadaan nilai masyarakat ini juga untuk meredam berbagai konflik budaya dan kecemburuan sosial yang sering terjadi dalam masyarakat kita. Karena fenomena konflik sering bermula dari pertentangan identitas yang tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat lain, dan bahkan juga para penguasa.
Dalam kacamata seperti itu, maka pemerintah Halmahera Utara, dalam kapasitasnya untuk melakukan pembaharuan di Halmahera Utara, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan harus merekonstruksi nilai-nilai sejarah yang telah ada di sekitar Halmahera Utara. Pemerintah seyogyanya tidak tenggelam dalam program pembangunan secara fisik, tetapi juga harus dibarengi dengan pembangunan nilai-nilai budaya dan sejarah.
Jika kedua hal ini dilakukan, maka apa yang dibangun akan dengan sendirinya bisa bertahan lama. Sebab pembangunan secara fisik, yang tidak dilandaskan dengan pembangunan nilai, maka lambat laun pembangunan fisik itu pun akan runtuh dengan sendirinya, karena masyarakat kehilangan identitas kulturalnya. Apalagi dengan kondisi globalisasi yang semakin menghantam seluruh aspek kehidupan manusia. Harus disadari bahwa keberhasilan Bali sebagai “surga dunia”, dan Yogyakarta sebagai “taman dunia”, tidak berangkat dari pembangunan fisik belaka, melainkan memiliki dasar, yaitu nilai-nilai lokal masyarakat sendiri.
Hemat saya, Pemda Halmahera Utara, melalui Dinas Pariwisata, harus melakukan beberapa hal penting, diantaranya adalah:
1. Memfasilitasi penelitian-penelitian sejarah lokal, guna menambah referensi sejarah yang telah ada.
2. Mendorong masyarakat lokal untuk menulis apa yang diketahui tentang pengalaman-pengalaman historis mereka.
3. Mensosialisasikan nilai-nilai lokal yang dimiliki oleh masyarakat.
4. Mencari jejak langkah kerajaan Moro yang telah hilang.
Rekonstruksi sejarah kerajaan Moro perlu dilakukan untuk melihat sistem sosial pada saat itu, terutama ketegangan yang sering dialami kerajaan ketika dihancurkan oleh Ternate. Dan juga melihat sejauh mana keunikan Kerajaan Moro dengan Kekristenannya yang lenyap digantikan dengan Islam, sebagai konsekuensi dari daerah kekuasaan Ternate, dibawah Babullah.
Sumber : http://www.halmaherautara.com/artikel.php?id=84
Penulis : Anthon Alberth Ngarbingan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)