Kamis, 19 Januari 2012

MENELUSURI SEJARAH MOROTAI 1934

menelusuri sejarah morotai 1934

Oleh : Irwan Soleman
A . PENDAHULUAN
Tak Ada Kata, Tak Ada Bahasa Dari Para Pemikir Pribumi. Itulah Fakta Sejarah Yang Kita Lihat Ketika Bangsa Ini Baru Terbangun. Banyak Bukti Sejarah Yang Kita Temui, Tapi Itu Hanya Wacana Hangat Di Masarakat Pribumu Yang Suatu Saat Akan Tenggelam. Untuk Itu, Kami Datang Untuk Menyapa Siapa Saja Yang Berada Di Pulau Para Leluhur Bumi Moro. Kepada Mereka Kami Bisikan, Bahwa Negeri Ini Kita Jadikan Sebagai “ Kota Bersejarah “.
Penyusun Kalimat Dalam Karya Ini Di Tulis Pada Awal Agustus Tahun 2010. Bersumber Dari Pejuang Veteran Yang Berada Di Pulau Morotai Sebagai Saksi Sejarah Yang Perna Hidup Di Masa Perang Dunya II. Sebenarnya Pemikiran Ini Terlahir Dari Ide-ide Besar Penulis Dengan Harapan Dan Tujuan Membangun Bangsa Indonesia Menuju Bangsa Yang Berperadaban (Jangan Perna Melupakan Sejarah “ JASMERAH” Soekarno 1945 ) Artinya Bahwa Barang Siapa Yang Perna Melupakan Sejarah Maka Mereka Akan Di Gilas Oleh Sejarahnya Sendiri. Perlu Kita Ketahui Karya Ini Di Tulis Dengan Sederhana Kerab Dorongan Serta Semangat Untuk Menjadikan Catatan Sejarah Untuk Rakyat Pribumi Morotai Bahwa Kita Juga Memiliki Sejarah Perdaban Sendiri Separti Daerah-daerah Lain Di Indonesia.
Pada Kesempatan Ini, Taklayak Jika Penulis Tidak Menyampaikan Terimakasi Kepada Semua Orang Yang Telah Mendukung Penulisan Sejarah Singkat Pulau Morotai Di masa Perang Dunya II Yang Sampai Saat Ini Masi Ada Sumber-sumbar Sejarah Dari Para Peleku-pelaku Yang Perna Terlibat Dalam Peperangan Di Masa Lampau. Ucapan Terimakasi Ini Penulis Menyampaikan Yang Pertama Kepada Bapak Muhli Eso Dan Rekan-rekan Yang Telah Memberikan Informasi Kapada Penulis, Serta Teman-teman Yang Seperti Saudara. Sejarah Di Masa Perang Dunya II,Kapada Kalian Semua Penulis Mengucapkan Banyak Terimakasi.
B. JEJAK BANGSA MORO 1914
Dalam Sejarah Perpindahan Penduduk Itu Terjadi Ketika Dalam Satu Tempat Penduduknya Terus Bertambah Atau Berpindah Penduduk Terjadi Ketidak Nyamanan Dalam Satu Tempat. Sehingga Harus Memaksa Manusia Untuk Berpindah Dari Satu Tempat Ke Tempat Yang Biasa Menjamin Kehidupanya Sehari-hari, Terutama Keamanan Diri, Keluarga Dan Kelompok. Perpindahan Penduduk Ada Yang Di Lakukan Secara Perorangan, Ada Yang Berhubungan Keluarga Dan Ada Pula Yang Rombongan Yang Besar. Dengan Demikian Miggrasi Dapat Di Kelompokan Menjadi Dua Bagian Yaitu Miggrasi Nasiona Dan Miggrasi Internasional.
Miggrasi Nasional Adalah : Perpindahan Penduduk Dari Satu Daerah Kedaerah Yang Lain. Misalnya Di Polau Mindano Bagian Selatan Terdapat Bangsa Moro Yang Memeluk Agama Islam. Pada Mulanya Mereka Menjadi Masalah Bagi Pemerintah Filipina, Dikarenakan Mereka Merasa Dirinya Dikucilkan Dan Tidak Di Ikutsertakan Dalam Pemerintahan. Olehnya Itu Mereka Mengasingkan Diri Kehutan Dan Mereka Mengadakan Pemberontakan Terhadap Pemerintahan Filipina. Untuk Menarik Bangsa Moro, Peresiden Filipina (Mc Markos) Bekerja Sama Dengan Nagara-negara Islam. Ahirnya Pada Tahun 1976 Bangsa Moro Berhasil Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwinya.
Miggrasi Internasional Yaitu Perpindahan Penduduk Dari Satu Negara Ke Negara Yang Lain. Perpindahan Cara Ini Terdiri Dari Miggrasi –(Masuk Suatu Negara) Dan Imiggrasi –(Keluar Dari Negara)
C. HISTORIS PERANG PACIFIK
Perang Dunya I (1914 - 1918) Dan Perang Dunya II (1939 - 1945) Adalah Merupakan Puncak Pertentangan Yang Melencarkan Perluasan Wilayah, Jepang Adalah Negara Industry. Industri Besar Jepang Telah Mampu Menghasilkan Kendaraan Besar, Misin-mesin Besar, Traktor-traktor Besar, Alat-alat Persenjataan Perang Dan Kapal Besar. Di Daerah-daerah Asia Dan Pacific,USA (United States Of Amerika) Harus Berhadapan Dengan Kekuatan Baru Yaitu Jepang Sebagai Negara Industry, Jepang Berusaha Pula Merebut Daerah Pasaran Diwilayah Ini, Untuk Menghadapi Kekuatan Jepeng, Amerika Serikat Membentuk Frent BCD Yaitu Kerja Sama Dengan Negara Amerika, Ingris, Cina, Dan Belanda. Mereka Saling Memperebut Daerah Pemasaran Dikawasan Ini, Peperangan Antara Amerika Dan Jepang Ahirnya Meletus Menjadi Perang Pacific (07 desember 1941-15 agustus 1945).
Pada Abad Ke-19 Indonesia Merupakan Sasaran Perpindahan Penduduk, Perluasan Wilayah Sekaligus Diikuti Peperangan Terhadap Penduduk Yang Didiami. Karena Memang Indonesia Memiliki Hasil Bumi Yang Banyak Dan Memiliki Tanah Yang Subur Dengan Demikian Pera Tentara Belanda Maupun Japang Salin Merebutnya Demi Kepentingan Ekonomi Maupun Politik. Ada Satu Rumusan Yang Menyatakan Bahwa “ Larangan Utama Bagi Industry Besi-baja Adalah Peperangan “ Itulah Kiranya Ada Kecendrungan Bahwa Negara-negara Industrialisasi Memiliki Kepentingan Besar, Mereka Selalu Berusaha Membuat Peperangan Agar Industry Perang Mereka Menjadi Laku Serta Memiliki Nilai Jual Di Pasaran Internasional.Yang Itu Dijadikan Sebagai Salah Salah Satu Stategi Guna Menarik Keuntungan Bagi Negara-negara Adikuasa Amerika Maupun Jepang.
Morotai Adalah Salah Satu Contoh Di Indonesia, Berada Pada Bagian Paling Ujung Wilayah Timur Indonesia Tepatnya Pada Bibir Pacific. Morotai Pada Umumnya Bergunung-gunung Dan Berhutan Lebat, Penduduk Asli Morotai Adalah Suku Moro. Suku Moro Adalah Bangsa Manusia Yang Hidupnya Dialam Lain. Ada Juga Pulau-pulau Kecil Disampingnya Yang Perna Di Jadikan Sebagai Daerah Kekuasan Jepang Dan Sekutu Ketika Di Dua Negara Ini Saling Melakukan Ekspansi Wilayah Pertahanan Perang Guna Ingin Menguasai Asia Pasific Di Karenakan Daerah Morotai Sangatlah Strategis Dalam Pertahanan Perang.Di Negara Indonesia? Mungkin Tidak Semuanya Rakyat Indonesia Mengetahui Lebih Jauh Tentang Sejarah Perang Dunya II Di Morotai, Padahal Morotai Adalah Bagian Dari Negara Kesatuan Republic Indonesia (NKRI), Mungkin Juga Morotai Tidak Dicamtumkan Dalam Catatan Penting Sejarah Pendidikan Nasional Sehingga Paramurid, Masarakat Indonesia Menanyakan Apa Itu Morotai?....Morotai Adalah Surga Dunya , Morotai Adalah Sejarah Yang Sengaja Di Hilangkan, Morotai Adalah Anak Dari Ibu Pertiwi Indonesia, Itulah Morotai.
D. MOROTAI 1942
Pada Tahun 1942, Jepang Mendarat Di Morotai, Masuk Dari Bagian Timur Tepatnya Di Desa Sangowo Dan Membentuk Tiga Pos Penjagaan Yaitu Di Sangowo, Totodokue Dan Daruba. Jepang Masi Ingin Menguasai Morotai, Karena Memang Pulau Ini Kaya Akan Hasil Bumi, Bukan Saja Didalam Hutan Tetapi Mulai Dari Tambang Emas Kuning, Tembaga Intan Biru, Intan Kuning, Intan Putih, Pohon Damar, Pala Hutan, Cengkeh Hutan, Fanili Dan Emas. Di Saat Mendarat, Begitu Banyak Peralatan Perang Yang Mereka Bawa Dan Turunkan Dari Atas Kapal, Taklama Kemudia Tentara Jepang Suda Menguasai Seluruh Daratan Morotai. Sekeliling Hutan, Dipesisir Pantai Dipenuhi Dengan Peralatan Perang Dan Begitu Banyak Kapal-kapal Besar, Pesawat-pesawat Tempur Sedang Mengelilingi Langit Morotai. Ahirnya Sebagian Tentara Jepang Ada Yang Membut Jalan, Masuk Ke Hutan Membuat Listrik Dan Membut Benteng-Benteng Tempat Pertahanan.
Setelah Pekerjaan Selesai, Tentara Jepang Mengumumkan Kepada Seluruh Rakyat Morotai Bahwa Mereka Harus Bekerja Sama Dengan Jepang. Rakyat Diperintahkan Untuk Membuat Landasan Pesawat Di Darueba Dan Lebih Dari Seribu Kapal Tentara Jepang Diturunkan Di Pulau Morotai. Sehingga Pada Saat Itu Morotai Terlihat Sebagai Kota Besar. Taicho Atau Para Pembesar-pembesar Jepang Dengan Bajonetnya Memerintahkan Kepada Rakyat Morotai Untuk Bekerja Dan Pekerjaan Yang Dilakukan Oleh Tentara Jepang Adalah, Apabila Dalam Satu Kelompok Ada Sembilan Orang Yang Disuruh Untuk Bekerja Membuat Parit Atau Menggali Sebuah Pohon Kelapa Dan Ketika Sembilan Orang Itu Tidak Mampu Untuk Bekerja Maka Di Kurangi Satu Orang Dan Suda Tentu Sisa Delapan Orang, Jika Tidak Mampu Lagi Maka Akan Dikurangi Satu, Itu Berarti Dalam Satu Kelompok Tingal Tujuh Orang Untuk Menggali Parit Dan Atau Menggali Pohon Kelapa Dan Apabila Tidak Mampu Lagi Maka Mereka Akan Di Hukum Mati.
Dalam Bakerja Mereka Diberikan Upah Sebesar 5 Cent, Tapi Dalam Upah Tersebut Para Pekerja Sudah Dikenakan Pajak Dengan Harga 4 Cent, Jadi Para Pekerja Hanya Mendapatkan Upah Sebesar 1 Cent. Kerja Itu Mereka Menamakan Kerja Paksa. Ahirnya Karena Tidak Sanggup Dengan Sebagian Rakyat Morotai Memutuskan Untuk Masuk Ke Dalam Hutan Dan Menghilang Dari Tentara Jepang Dengan Adanya Kerja Paksa Pada Tanggal 15 September Tahun 1944 Tentara Sekutu Mendarat Di Daroeba Sekaligus Melakukan Penyerangan Terhadap Tentara Jepang Sampai Kehutan-hutan. Tentra Sekutu Terdiri Dari Tentara Amerika, Inggris, Australia, Afrika dan Belanda.
Tentara Sekutu Juga Bekerja Sama Dengan Rakyat Morotai, Bantuan Diberikan Oleh Tentara Sekutu Secara Cuma-cuma Kepada Rakyat Morotai Dan Para Pekerja Paksa Diberikan Tempat Tinggal/Bevek Di Sambiki Dan Daeo. Selanjutnya Mereka Mendirikan Dua Landasan Pacu Bandara Di Gotalamo. Satu Landasan Dua Tempat Parkiran Pesawat Dengan Nama Pitoe Airfield Selesai Pada Tanggal 05 Oktober Tahun 1944 Dan Satu Landasan Memiliki Lima Tempat Parkiran Pesawat Dengan Nama Wawama Airfield Yang Selesai Pada Hari Selasa Tanggal 17 Oktober 1944, Maka Panjang Lapangan Phitoe Streit Adalah 2800 Meter.
E. SEKUTU VS JEPANG
Sebelum Meletusnya Perang Dunia II, Lebih Dari Sepulu Ribuh Kapal Perang Dan Kapal Induk Milik Tentara Jepang Dipulangkan Ke Negaranya. Sekutu Mengumumkan Kepada Seluruh Rakyat Morotai Untuk Tidak Masuk Kedalam Hutan Karena Akan Berperang Dengan Tentara Jepang. Pada Tanggal 15 September Tahun 1944 Meledaklah Perang Dunia II Di Morotai. Peperangan Tersebut Berawal Dari Daroeba; Sekutu Menyerang Tentara Jepang Di Dehegila, Gotalalamo, Totodokue, Sabatai Tue, Sampai Di Pilowo. Selanjutnya Pada Tanggal 17 September 1944 Sekutu Menyerang Jepang Di Metihta I, Baroe, Dan Sangowo.Dalam Penyerangan Tersebut Tentara Sekutu Tidak Perna Berfikir Bahwa Di Metihta Ada Masarakat Sipil Yang Tinggal Serta Berkebun, Perkiraan Tentara Sekutu Di Metihta Ada Tentara Jepang Yang Bersembunyi,16 Kapal Perang Mengelilingi Metihta Dan Menghujani Peluru M 16 Maupun 12,7 Ahirnya Semua Perkebunan Hangus Terbakar Dihantam Oleh Tentara Sekutu, Pada Ahirnya 10 Orang Pasukan Katak Sekutu Terjun Langsung Ke Matihta Ternyat Ketika Mereka Tiba Di darat, Ada Sebagian Masyrakat Yang Keluar Dari Dalam Lubang Tempat Persembunyian Ketika Dihujani Peluru Oleh Tentara Sekutu, Pada Ahirnya Juru Bicara Tentara Sekutu Yang Bernama Franst asal Sulawesi Mengatakan Kepada Penduduk Matihta, Kenapa Kalian Tidak Menaikan Bendera Atau Kain Putih Bertanda Menyerah?...Masyrakat Langsung Menjawab?...Kita Takut Karena Terlalu Banyak Peluru Yang Ditembaki Kearah Kita Sehingga Kita Bersembunyi Didalam Lubang. Ahirnya Salah Satu Warga Matihta Meninggal Dunia Karena Terkena Tembakan Dikaki.
Kemudian Juru Bicara Tersebut Langsung Menanyakan Dimana Mayat Itu?...Setelah Itu Satu Orang Tentara Langsung Melaporkan Kepada Komendan Batalion 146 MRR Dan Setelah Itu Sebagian Pasukan Sekutu Mengamankan Warga Metihta Dan Mereka Langsung Memberikan Ganti Rugi Atas Tanaman-tanaman Warga Yang Rusak Terbakar, Tentara Sekutu Juga Memberikan Bantuan Seperti Obat-obatan, Pakaiyan, Makanan Dan Lain-lain Yang Menjadi Kebutuhan Warga Matihta. Dengan Kejadian Tersebut Sebagian Warga Dibawah Ke Kapal Induk Untuk Diperiksa Karena Ada Juga Sebagian Warga Yang Kena Luka-luka Ringan Karena Tembakan Tentara Sekutu Bertepatan Pada Hari Kamis 18 September 1944 Dini Hari.
Kemudian Sekutu Bergerak Dari Soemsoem I, Menuju Dodola I,Ngelengele,Tilei Dan Wajaboela. Keesokan Harinya Tanggal 19 September Sekutu Menyerang Jepang Di Tjio, Tanggal 20 Di Pandanga Dan Shopi, Tanggal 21 Di Posisi, Tanggal 22 September Tahun 1945 Sekutu Memukul Mundur Tentera Jepang Sehingga Lari Kehutan. Sekutu Juga Membuat Pagar Betis Dari Philowo Sampai Ke Sabatai Atau Sebagai Daerah Kekuasaan Sekutu Yang Disebut Sebagai Hutan Lesensi. Tanggal 05 Januari Tahun 1945 Terjadi Penyerangan Sekutu Terhadap Tentara Jepang Di Bukit Kokota Dan Bukit Kekere. Pesawat-pesawat Tempur Milik Jepang Yang Berada Di daratan Galela Di Kerahkan Untuk Menyerang Tentara Sekutu Yang Hampir Menguasai Daratan Morotai.
Tetapi Bantuan Tersebut Tidak Berhasil Di Karenakan Tentara Sekutu Yang Lebih Duluan Menyerang Jepang Di Pesisir Pantai Galela Yang Sekarang Di Sebut Galela Pedalaman, Pesawat Jepang Mulai Berjatuhan, Daratan Morotai Hangus Terbakar. Di Bagian Timur Sekutu Juga Membombardir Tentara Jepang Dengan Pesawat Tempur, Masuk Mulai Tanjung Sangowo, Wewemo, Daeo, Sabatai, Pasisir Pantai Sampai Ke Gunung-gunung. Rakyat Morotai Di Evakuasi Di Daeo, Di Karenakan Daeo Tempat Rumasakit Raksasa Dan Juga Markas Buatan Tentara Sekutu.
Selama Pendudukan Bala Tentara Jepang (1942-1945) Rakyat Mengalami Penderitaan Yang Luar Biasa. Dikarenakan Rakyat Morotai Mendapatkan Penyiksaan Yang Sangat Kejam Dan Selalu Diancam Hukuman Mati Oleh Tentara Jepang. Setap Hasil Panen, Harta Masarakat, Perkebunan Masarakat, Pertenakan Dan Lain-lain Yang Itu Menjadi Harapan Hidup Masyarakat Morotai, Dirampas Habis Oleh Pemerintah Serta Tentara Jepang Untuk Kepentingan Perangan Asia Timur Raya. Seluruh Tenaga Rakyat Harus Dikerhakan Untuk Kerja Rodi. Berates-ratus Anggota Romusha (Barisan Parajurit kerja) Di Kerahkan Untuk Membangun Pangkalan-Pangkalan Militir, Benteng Pertahanan, Pembuatan Jalan, Jembatan Dan Sumur-sumur Air. Kerja Romusha Ini Tidak Perna Kembali Ke Kampong Halamannya Karena Mati Kelaparan, Kehausan Dan Siksaan Dalam Kerja Paksa. Itulah Sebabnya, Disaat Sekutu Masuk Dari Ujung Wewemo, Tentara Jepang Banyak Yang Tewas Diperkirakan Kurang Lebih 2700 Orang Pasukan Jepang Yang Ditembak Oleh Tentara Sekutu, Diwaktu Yang Sama Rakyat Morotai Juga Melibatkan Diri Bergabung Dengan Tentara Sekutu Untuk Menyisir Tentara Jepang Ditengah-Tengah Hutan Rimba Morotai. Tetapi Ucoro, Kakak Dari Noni Ube Tewas Dalam Pertempuran Dengan Demikian Anak Dari Ucoro Dipelihara Oleh Tentara Sekutu, Lalu Kemuduian Anak Tersebut Dibawah Nenegara Mereka (AMERIKA) Untuk Disekolahkan. Itulah Janji Pimpinan Perang Battalion 157 Sekutu Mr Chornael, Kepada Sebagian Anggota Masarakat Yang Terlibat Dalam Peperangan Melawan Jepang.
Selanjutnya Untuk Mencari Tentara Jepang Sampai Ketengah-tengah Hutan, Sekutu Juga Menyanyikan Lagu-lagu Perjuangan Bersama Rakyat Morotai Yang Bergabung Dalam Penyisiran Tentara Jepang.
Lido Pistol Dam Bai Lido Pistol Dam Pistol Pikul Mama Lido Pistol Dam,
Hei Rekem Berneu Kabroi Noase Emberka Uanas Kokina Kuana Manoa,
Hai….Hai….Rekem Berneu Kabroe Noase Emberka…..!

Dua Hari Kemudian Pesawat Tempur Jepang Menyerang Tentara Sekutu Di kampong Baru, Tetapi Rakyat Morotai Yang Menjadi Sasaran Dalam Penyerangan Tersebut Dan Memakan Korban Sebanyak 46 Orang. Dengan Adanya Pertempuran Yang Tidak Perna Berhenti, Maka Sebagian Besar Masyarakat Totodokue Bersembunyi Didalam Goa Yang Beri Nama Teto Tatame (goa batu tadudu) Selama Lima Hari Dan Waktu Itu Bertepatan Pada Bulan Suci Ramadhan Tahun 1945. Di Saat Orang Sabatai Menemukan Masarakt Totodokoe Di Goa Teto Tatame, Mereka Langsung Dibawah Oleh Masarakat Totodokue Untuk Keluar Dari Hutan. Ketika Mereka Sudah Hampir Sampai Di Sabatai, Jepang Yang Saat Itu Sempat Melihat Kearah Mereka Langsung Menembak Kearah Mereka Yang Mengenai Seorang Perempuan Di Kakinya.
Sekutu Yang Mendengar Suara Tembakan Itu, Langsung Bergerak Dan Mengamankan Warga Sambil Mengejar Tentara Jepang Sampai Ke Hutan-hutan. Jumlah Tentara Sekutu Pada Saat Itu Berjumlah Enam Puluh Ribu Orang, Morotai Pada Waktu Itu Penuh Dengan Pesawat-pesawat Tempur Langit Telah Diisi Oleh Pesawat Tempur Dan Bersusun-susun Di hutan Lesensi. Daruba Sampai Pulau Raoe Merupakan Daerah Kekuasaan Sekutu Dan Pada Saat Itu Penjagaan Yang Sangat Luar Biasa, Tetapi Rakyat Pribumi Tidak Dilarang Keluar Masuk Dalam Areal Sekutu Tersebut Dengan Kondisi Seperti Itu Antara Tentara Sekutu Dan Masarakat Morotai Saling Berhubungan Emosional Dan Bergaul Seperti Biasanya Dan Bahkan Ada Sebagian Masarakan Di Pekerjakan Sebagai Tukan Masak, Penjaga Mesin Listrik, Gudang Pesawat Serta Adapula Sebagian Masarakat Yang Menikah Dengan Tentara Sekutu Pada Saat Itu, Dengan Demikian Masarakat Merasa Nyaman Dengan Tentara Sekutu Dibandikan Dengan Tentara Jepang.
Beberapa Hari Kemudian Tentara Sekutu Menyerang/Membabibuta Terhadap Tentara Jepang, Ahirnya Jepang Terpukul Mundur Dari Sabati Menuju Ke Puncak Gunung Teo Malelega Dalam Penyerangan Tersebut Juga Banyak Dari Tentara Sekutu Yang Tewas Dikarenakan Kena Jebakan Ranjauo Yang Dibuat Oleh Jepang, Walaupun Pasukan Sekutu Banyak Yang Korban Tapi jepang Kalah Dalam Pertempuran Tersebut Yang Mengakibatkan Semakin Besar Sekutu Mendapatkan Wilayah Kekuasanya Dan Sekaligus Sekutu Membuat Benteng-benteng Pertahanan Dan Posko-posko Pengamanan.
Pelarian Jepang Di Gunung Teo Malelega Itu Kemudian Tentara Jepang Membentuk Pertahanan Di Karenakan di Gunung Tersebut Jepang Memliki Senjata Mesin Otomatis Mariam Dengan Posisi Dua Buah Senjata Mariam Yang Satu Menghadap Ke Laut Bibir Pacific Dan Satu Buah Menghadap Ke Utara. Sebelum Jepang Di Sergap, Tentara Sekutu Suda Memasang Empat Kekuatan Di Pesisir Pantai Posko Kekuatan Pertama Di Wajaboela,Posko Kekuatan Ke Dua Di Tileie Pante,Posko Kekuatan Ke Tiga Di Loleolamo Dan Posko Kekuatan Ke Empat Di Antara Air Pilowo. Setelah itu,Sekutu Juga Mengirim Tiga Kekuatan Untuk Menyerang Satu Kesatuan Tentara Jepang Di Bukit Kokota Dan Kekere. Satu Kesatuan Masuk Dari Pinggiran Kali Tilei, Satu Kesatuan Masuk Dari Kali Pilowo Dan Satu Kesatuan Masuk Dari Pesisir Pantai Dodoela Menuju Gunung Pang.
Di Gunung Pang Inilah Jepang Lari Ke Bukit Kokota Dan Setelah Sekutu Berhasil Menguasai Bukit Kokota Serta Memukul Mundur Tentera Jepang Lalu Bertahan Di Bukit Kekere. Maka Di Situlah Terjadi Pertempuran Besar-besaran Antara Tentara Sekutu Dan Tentara Jepang Yang Saling Berhadap-hadapan Di Antar Dua Bukit Yang Ada, Dua Bukit Berjarak Sekitar 100 Meter Dan Di Kedua Bukit Tersebut Kita Bisa Melihat Seluruh Daratan Pesisir Morotai Yang Memiliki Pesona Alam Yang Sangat Luar Biasa Serta Memiliki Penghasilan Alam Yang Melimpah Dan Memiliki Tanah Yang Subur. Di Tempat Ini Pulah Tentara Sekutu Dan Tentara Jepang Mati Jatuh Di Kali Dan Seluruh Mayat Berjatuhan Di Kali Tersebut Yang Membuat Kali Philowo Tersumbat Di Karenakan Terlalu Banyak Mayat Yang Menutupi Jalan Air.
Ditengah-tengah Kekalahan Jepang Di Morotai Dalam Perang Dunya II, Selanjutnya Sekutu Juga Melancarkan Serangan Bom Atom Pada Tanggal 16 Agustus Tahun 1945 Bertepatan Di Kota Herosyima Sebagai Kota Industry Baja Dan Pada Tanggal 16 Agustus 1945 Menyusul Sekutu Membom Kota Nagasaki Sebagai Pusat Industry Kapal Dan Galangan Kapal Yang Harus Memaksa Jepang Menyerahkan Diri Tampa Syarat. Di Morotai, Setelah Pertempuran Selesai Jepang Menyerahkan Diri Dan Melakukan Perdamaiyan Dengan Sekutu Di Pesisir Pantai Yang Di Sebut Dengan Pantai Trans Meter, Seluruh Barang-barang Mereka Di Tinggalkan, Sebagian Di Tanam, Di Bakar Dan Sebagian Pula Di Buang Ke Laut Morotai Serta Sebagian Mayat Tentara Jepang Mereka Bakar Di Daerah Trans Meter Yang Sekarang Tempet Itu Di Sebut Lokasi Bakar Mayat Berdekatan Dengan Lokasi Perkebunan Masarakat Totodoeko.
PEJUANG MERAH PUTIH MOROTAI (AGUSTUS 1948)
Belanda Masi Berdiam Diri Di Morotai, Seluruh Rakyat Suda Mulai Muak Dengan Kekejaman Mereka. Penindasan Yang Mereka Lakukan Selama Ini Tidak Manusiawi Lagi Banyak Masarakat Pribumi Dipukul, Dibunuh Karena Masyarakat Tidak Mau Memberikan Upah Dari Hasil Panen Perkebunan Maupun Peternakan Dan Bahkan Pihak Belanda Melakukan Pemerkosan Kepada Gadis-gadis Pribumi Morotai. Kami Mengira Peperangan Suda Berahir Pada Hal Pihak Belanda Masi Saja Menjajah Kami, Kami Kira Dengan Berahirnya Perang Antara Sekutu Dan Jepang Maka Berahir Pula Penindasan Di Bumi Pertiwi Morotai. Pondok-Pondok Warga Dibakar, Peternakan Kami Ditembak Dengan Senapan Otomatis 12,7 Dan Bahkan Rakyat Dilarang Untuk Mengibarkan Bendera Sangsaka Meraputih, Bendera Tersebut Adalah Kebanggaan Seluruh Rakyat Indonesia Dari Sabang Sampai Moroke, Merah Adalah Darah Dan Putih Adalah Suci. Rakyat Rela Mengorbankan Jiwa Dan Raganya Hanya Untuk Mempertahankan Bendera Merah Putih Tetap Selalu Berkibar Diudara.
Dengan Kondisi Tersebut Memancing Kemarahan Rakyat Pribumi Morotai Untuk Bertindak,Di Tengah-tengah Rasa Ketakutan, Hari-hari Yang Mencengkram Hadirlah Seorang Warga Yang Memberanikan Diri Untuk Membakar Semangat Perjuang Rakyat Morotai Untuk Bangkit Dan Melawan Atas Kediktatoran Kaum Penjajah Belanda. Hi. Ahmad Sukur Dan Rekan-rekannya Yang Telah Berjuang Dengan Gigih Berani Membela Bangsa Dan Negara Telah Tewas Di Tangan Belanda Yang Saat Itu Rakyat Morotai Melakukan Sabotase.
Di Malam Hari Benderah Merah Putih Mulai Di Tempelkan Di Mobil-mobil Tentara Belanda,Semakin Hari Situasi Semakin Kacau. Rapat Diakukan,Para Pimpinan Tertinggi Belanda Mulai Berkumpul Dalam Pertemuan Tersebut Tidak Lain Membahas Penyerangan Harus Di lakukan Secepatnya Untuk Membunuh Rakyat Morotai Maupun Para Tentara Atau Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Harus Dibunuh Tampa Sisa. Disaat Itu Mereka Percaya Pada Seorabg Tentara Belanda Dengan Pangkat Sarsan Yang Berasal Dari Manado, Yang Sempat Bergabung Dengan Tentara Belanda.
Malam Itu Beliu Dipercayakan Untuk Menjaga Gudang Senjata Sebelum Tentara Belanda Menyerang,Rakyat Morotai Pada Pagi Hari, Tentera Tersebut Takut Bahwa Posisinya Akan Di Ketahui Oleh Tentera Belanda Ahirnya Beliau Langsung Melaporkan Kepada APRI.Dengan Kondisi Tersebut APRI Langsung Melaporkan Kepada Para Pemuda Dibawah Pimpinan Hanafi Djama Dan Wakilnya Hind Dari PERMESTA,Mereka Langsung Mengumpulkan Lebih Dari 60 Para Pemuda Dari Sangowo,Mira,Daeo Dan Beberapa Desa Yang Lainnya Temasuk Pemuda Kempolisi Yang Sekarang Menjadi Desa Juanga, Bahwa Berkorban Untuk Bini : Kalian Semua Takut Mati Atau Tidak?...Para Pemuda Walupun Jiwa Dan Raganya Menjadi Taruhan,Tetapi Dengan Semangat Nasionalisme Serta Patriotisme Yang Tinggi Serta Kecintaan Meraka Terhadap Rakyat Morotai, Mereka Siap Untuk Berkorban Sampai Titik Darah Penghabisan. Saat Itu Tepat Di Rumahnya Bapak Hanafi Djma Di Darueba,Mereka Menamakan Diri Sebagai Pemuda Merah Putih Yang Diperintahkan Oleh APRI Bahwa Pada Malam Ini Mereka Harus Membawa Gunting Dan Tang Untuk Memotong Kawat Duri.
Strategi Mulai Dijalankan,APRI Yang Memandu Setiap Tiga Orang Pemuda Yang Bersenjatakan Kayu Dibungkus Mantel,Botol Peninggalan Dibunkus Dengan Kain Dan Kayu Yang Diujungnya Terdapat Bajenet Peninggalan Australia.Setelah Itu Mereka Masuk Melewati Pos Monyet Dengan Cara Tiarap Lalu Tiga Orang Pemuda Menodong Senjata Kepada Tentara Yang Sedang Berjaga Disetiap Pos Monyet.Ketika Sampai Pada Pintu Kamar, Lalu Tiga Orang Pemuda Mengetuk Pintu Lalu APRI Yang Menodongkan Senjata.Setelah APRI Dan Para Pemuda Merah Putih Berhasil Menguasai Kompi 153 (Sekarang Markas AURI),158 LOC (Leiher Organisation Central).Kompi 159 Bos Weisen (Juanga/Dermaga Veri) D Day (Pandanga) Dan Kem Polisi Belanda( Yang Sekarang Perkebunan Masarakat Juanga) Pada Jam 04.00 WIT Dini Hari, Maka Bendera Merah Putih Mulai Dikibarkan Pertama Kalinya Didaerah Pekantoran Pemerintah Belanda Yang Berkedudukan Di Juanga Komples Kem polisi Belanda Yang Dipimpin Oleh APRI Dan Para Pemuda Merah Putih Morotai.
Paska Pengusaan Kompi-kompi Milik Belanda Itu, Semua Rakyat Morotai Di Melangsungkan Upacara Pengibaran Sangsaka Meraputih Dan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Paska Upacara Selesai Para Mayat Pemuda Dan APRI Di Kuburkan Di Kuburan Pahlawa Yang Sekarang Menjadi Desa Wawaema, Di Sanalah Para Pejuang-pejuang Morotai Di Makamkam “ Hormat Kami Untuk Para Leluhur Bumi Moro, Semangat Perjuangan Kalian Akan Kami Lanjutkan “(20-21 Agustus 1945) di morotai.
MOROTAI TAHUN 1958
Reaksi Kekalahan Jepang Dalam Perang Dunya II Di Morotai Yang Harus Memaksakan Mereka Untuk Tidak Keluar Adalah Satu Keputusan Bersama Bsekutu Masi Berada Di Morotai Dan Indonesia Suda Merdeka. Untuk Menyelamatkan Diri Didalam Kehidupan Yang Serba Sulit, Ahirnya Mereka Berusaha Untuk Menyatu Dengan Alam Morotai. Tepatnya Di Belakang Perkampungan Warga Tjio Masi Terdapat Sembilan Orang Tentara Jepang Yang Belum Kembali Kenegara Asalnya Setelah Perdamaiyan Sekutu Dan Jepang. Tempat Tinggal Mereka Di Gunung Suwedi. Hutan Yang Sangat Ganas Mereka Mampu Untuk Beradaptasi Dan Membuat Kebun Di Belakang Tjio. Saat Itu Rakyat Morotai Tidak Mengetahui Keberadaan Jepang Yang Hidup Di Hutan Morotai,
Suda Lama Mereka Ingin Kembali Kenegaranya, Di Puncak Gunung Gogirina Mereka Membuat Pesawat. Bodi Dari Rotan, Sayap Dari Bambu, Dan Baling-baling Dari Kayu. Setelah Selesai Ternyata Pesawat Itu Tidak Bias Terbang Jauh. Di Saat Masarakat Tjio Masuk Kehutan Untuk Mencari Kayu Damar, Orang Jepang Mengintai Mereka Sampai Kayu Damar Di Turunkan Ke Kali. Di Kali Suda Terdapat Rakit, Orang Jepang Langsung Menyergap Dan Merampas Damar Mereka Setelah Damar Itu Di Rampas, Orang Tjio Mengetakan Ke Orang Jepang Yang Masing-masing Dengan Nama Kisi, Rata ,Maida Dan Yang Lainnya Berjumlah Sembilan Orang Itu Bahwa Indonesia Suda Merdeka.
Tentara Sekutu Suda Pulang Ke Negaranya Masing-masing. Orang Jepang Tidak Percaya Bahwa Indonesia Suda Merdeka, Salah Satu Orang Tjio Yang Bernama Copo Langsung Lari Ke Kampong Untuk Mengambil Bendera Merah Putih Dan Membawa Kehadapan Orang Jepang Bahwa Betul Indonesia Itu Suda Merdeka, Mereka Masi Saja Belum Percaya Kepada Orang Tjio. Selanjutnya Mereka Juga Ikut Dengan Tentara Jepang Melintasi Sungai Memakai 12 Rakit, Tiga Rakit Untuk Damar Dan Sembilan Rakit Dinaiki Oleh Orang Jepang Yang Setiap Orang Suda Memengang 900 Butir Peluru. Bendera Merah Putih Dan Bendera Jepang Di Silangkan Didepan Rakit. Kisi Sebagai Pimpinan Orang Jepang Ketika Sampai Di Perkampungan Warga Tjio Mereka Langsung Disambut Oleh Kepala Desa Tjio Bapak Husain Yusuf.
Sembilan Orang Tentara Jepang Langsung Diajak Untuk Tinggal Dirumahnya Basri Boi, Selanjutnya Orang Jepang Langsung Menerima Tawaran Tersebut. Selama Tiga Hari Di Tjio, Siang Malam Kerja Mereka Hanya Membuat Antraksi-antaraksi Perjuanangan Permainan. Sebelum Berangkat Meninggalkan Morotai, Mereka Mengatakan Bahwa Di Belakang Tjio Mereka Sempat Membuat Kebun. Masarakat Dari Tiga Desa Tersebut Yaitu Desa Tjio Kecil,Tjio Besar, Dan Kampong Tua Sama-sama Mereka Masuk Ke Hutan Dan Mengambil Hasil Panen Orang Jepang. Banyaknya Masarakat Yang Mengambil Tanaman Perkebunan Itu Tetap Tidak Habis.
Setelah Kesembilan Orang Jepang Itu Dipulangkan Kenegara Mereka Pada Tahun 1974 Mereka (Nakamura dan Goyoko) Sering Keluar Masuk Kampung Dan Secara Diam-diam Ternyata Nakamura Perna Menjalin Cinta Dengan Seorang Gadis Dari Desa Sangowo Yang Bernama Nifa Dan Waktu Itu Nakamura Berusia 25 Tahun, Menjelang Beberapa Tahun Kemudian Tentara Jepang Balik Ke Morotai Untuk Mencari 2 Orang Tentara Jepang Yang Masi Tertinggal, Yaitu Nakamura Dan Goyoko. Tetapi Mereka Hanya Berhasil Menemukan Prajurit Nakamura Dan Menagkapnya Dengan Membawakan Lagu Kebangsaan Jepang, Diiringi Dengan Tuturan Air Mata Yang Menyirami Pipi Para Tentera Jepang, Karena Sedih Melihat Keadaan Prajurit Yang Gagah Perkasa Masi Hidup. Inilah Lagu Kebangsaan kita:
Yoyakeko Dihingakao Rete Yoma No ate Kani Garu ooo….Se iro….o….Nasagu fori yori Fojina Soae takiso Ken ua Mokesu Yoru Genage….! Yang artinya :
Inilah Kehormatan Sejarah Nipon, Pandanglah Langit Fajar Dilaut Timur Matahari Tertinggi Bersinar-sinar Kumengaku Gembira Di Dada Kita Penuh-penuh Harapan Kepulawanku.
Mio takaino sola akete…gesta gostatakue page akeba sing….sing….sing pake akeba ooo…! Yang artinya:
Pagi-pagi Di Atas Berawan Putih Tidak Ada Ceceran Sedikit Juga, Inilah Kehormatan Sejarah Nipon.
MISTERIUSNYA HUTAN MOROTAI
Hutan Yang Mesterius, Menyimpang Begitu Banyak Kejadian-kejadian Sangat Mengerikan Di Saat Mereka (Suko moro) Menampakan Wojud Yang Asli. Hutan Yang Lebat, Tetapi Dalam Kesunyian Kita Akan Mendengar Suara Tembakan Ataitu Teriakan-teriakan Yang Sangat Menakutkan. Begitu Pula Dengan Barang-barang Peninggalan Yang Telah Ditemkan Dalam Hutan. Tadinya Kita Suda Membeir Tanda Pada Barang-barang Peninggalan Yang Telah Kita Temui, Tetapi Seminggu Atau Sebulan Kemudian Ketika Kita Balik Kelokasi Tersebut Untuk Melihatnya, Nyata Barang-barang Peninggalan Tersebut Sudah Berubah Menjadi Besar Atau Menjadi Non Besar Atau Batu Besar. Sungguh Aneh Hutan Morotai?.......
Pulau Ini Tampa Dipungkiri Di Huni Oleh Suku Asli Yaitu Suku Moro. Tempat Tinggal Mereka Biasanya Dipohon Besar, Batu-batu Besar Dan di Air. Di dalam Hutan Begitu Banyak Air Terjun Dan Goa. Tapi Begitunya, Di Hutan Morotai Terdapat Pangser Atau Amfibi Yang Tergantung Di Pohon Besar, Dan Juga Peninggalan Berupa Belanga Besar Yang Sampai Saat Ini Tidak Ada Tanah Atau Rumput Yang Tumbuh Di Dalamnya Adan Juga Hal Yang Terbuat Dari Perak Yang Terdapat Di Gunung Alipang Dan Lonceng Asal Yang Terbuat Dari Emas Masi Terdapat Di Dalam Laut. Menurut (Seorang Penjaga Lokasi Persembunyian Nakamora), Beliau Mengatakan Behwa Diatas Gunung Pasi, Ada Sebuah Peti Yang Diatasnya Terdapat Sebuah Mangkok Dan Satu Buah Piring. Iya Juga Mengatakan Bahwa Sesunggunya Peti Itu Selalu Berpindah-pendah Tempat. Pada Jumat Pertama Posisi Peti Itu Di Tanjung Wajaboela, Jumat Ke Dua Posisi Peti Itu Berada Di Belakang Wajaboela Dengan Demikian Hutan Morotai Memiliki Keanehan Tersendiri Yang Pada Ahirnya Keadaan Tersebut Sampai Sekaran Masi Tetap Seperti Itu.
Morotai Dalam Sejarah Dunya Juga Tercatat Bahwa Di Morotailah Peperangan Asia Pacific Itu Terjadi Yang Bermula Dari Kepentingan-kepentingan Negara-negara Besar Yang Menjadikan Morotai Adalah Wilayah Pertahanan Perang, Hal Tersebut Seharusnya Menjadi Cacatatan Buat Kita Semua Sebagai Generasi Para Leluhur Morotai Untuk Selalu Menelusuri Jejak Sejarah Perang Dunya II, Pada Tahun 1944. Dengan Demikian Kita Akan Mengetahui Sejarah Kita Sendiri.
Sumber informasi

Ucapan terimakasi yang mendalam kepada teman-teman ataupun orang-orang yang pada waktu itu terlibat dalam perang dunya II, karena mereka-mereka inilah penulisan artikel terkait dengan sejarah morotai dimasa perang dunya II bisa penulis selesaikan, penulis sadari bahwa, tulisan ini belum sepenuhnya sempurna di karenakan penulis hanyalah manusia biasa yang memiliki kekurang. Maka dengan demikian penulis sangat mengharapkan kiritikan maupun saran dari pembaca untuk penulis menyempurnakan tulisan penulis ini.

Sumber : Morotai City

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)