Jumat, 25 Januari 2013

SERSAN SHOICHI YOKOI,Nakamura (Di Morotai) Letnan Dua Hiroo Onoda MENYERAH SETELAH 27 TAHUN PERANG USAI


Pada 23 September 1997, reporter Reuters, Jon Herskovitz, mengabarkan bahwa Shoichi Yokoi meninggal karena serangan jantung di rumah sakit di kampung halamannya di Aichi prefecture, di daerah Ngoya, Jepang. Meninggalnya dalam usia tua, 82 tahunan. Yokoi adalah orang yang luar biasa, kontroversial, entah baik atau buruknya, tapi dia adalah prajurit Jepang yang terus sembunyi di Guam selama 27 tahun setelah perang selesai. Di Jepang amat terkenal, dan hampir sama terkenalnya dengan Letnan Onoda yang juga bertahan sampai 1974 dari jaman perang.

Cerita kepulangannya tahun 1972 amat dramatik. Kalimat pertamanya saat tiba di Tokyo kemudian menjadi ucapan yang populer se-Jepang: "Adalah amat memalukan bahwa saya pulang (dalam keadaan hidup)". Pada saat dia pulang itu, Jepang sedang booming menjadi kekuatan industri baru di awal 70-an. Bagaimana dia mengeksplorasi hutan Guam selama begitu lama amat mengagumkan seluruh bangsa Jepang. Dia ceritakan pengalamannya sebagai orang hutan, makan kacang-kacangan mentah, berries, kodok, siput, tikus, segala macam. Dan bahkan dia memintal kain sendiri dari serat-serat pohon. Sebelum perang, dia adalah seorang tukang jahit baju yang hidup di desa agraris.

Kepulangannya itu lantas memicu pencarian terhadap sisa-sisa tentara Jepang yang lain, yang ujung-ujungnya kemudian ditemukan dua orang lagi yang terkenal juga sampai sekarang, yaitu Nakamura yang nasibnya tragis, ditemukan di Pulau Morotai, Maluku, Indonesia, sekitar tahun 1974, dan Letnan Dua Hiroo Onoda, yang perwira, dari Pulau Lubang, Filipina. Berbeda dengan Onoda dan Nakamura yang senapan Arisakanya masih berfungsi dan terpelihara dengan baik, senapan Yoko sudah karatan dan tidak berfungsi. Walau begitu, dia bawa pulang juga senapannya itu, yang dia niatkan untuk dia kembalikan kepada kaisar yang dia muliakan. Konon, beberapa tahun sebelum dipulangkan ke Jepang, dia sudah mengetahui dan meyakini, bahwa Jepang telah kalah perang, namun dia enggan dan amat takut untuk menyerahkan diri.

Ada yang bilang dia berpangkat kopral. Atau mungkin dulunya dia memang dikenal sebagai kopral, tapi Reuters bilang saat berita kematiannya itu, bahwa dia adalah bekas sersan. Atau mungkin purnawirawan-nya dia itu sersan. Pada titik itu, pangkat tidaklah penting lagi. Yang jelas dia bukan perwira seperti Onoda, tapi juga bukan prajurit rendahan seperti Nakamura. Konon, dia didaftar sebagai tentara angkatan darat pada tahun 1941, lalu dikirim ke Cina timur laut. Belakangan, bersamaan dengan pasukan yang diperbantukan ke Guam, dia dikirim sebagai bala bantuan tambahan ke Guam. Jepang menguasai Guam sejak hari-hari pertama perang Pasifik, dan sempat menempatkan 22 ribu tentara di sana saat menjelang invasi Amerika. Kebanyakannya disapu bersih dan mati, saat Amerika merebut kembali Guam tahun 1944. Namun demikian, banyak juga yang kececer bergerilya di hutan, sampai bertahun-tahun. Yang terakhir, dan paling terkenal, adalah Yokoi ini.

Yokoi direkrut tentara pada tahun 1942. Semulanya dia adalah tukang jahit. Lantas dia ditempatkan di Divisi Infanteri ke-29 di Manchukuo, China Utara. Tahun 1943, dia dipindahkan ke Resimen Ke-38 di kepulauan Mariana. Dia tiba di Guam Februari 1943. Saat Amerika membebaskan Guam pada tahun 1944, ada seribuan tentara Jepang yang terpencar bergerilya ke hutan-hutan. Yokoi kabur sembunyi di hutan bersama sepuluh tentara Jepang lainnya. Tujuh di antaranya, berangsur kemudian pindah, pergi entah kemana. Tinggallah tersisa tiga orang. Lalu tiga orang ini pun berpisah. Walau begitu, bertiga itu mereka masih rutin saling mengunjungi, terus dan terus sampai sekitar tahun 1964. Di tahun itu, Yokoi menemui kedua temannya mati, kelaparan. Lalu, dari tahun 1964 sampai 1972, Yokoi menggelandang di hutan sepenuhnya sendirian saja. Untuk makan, dia mengandalkan kerjaan berburu, utamanya di malam hari. Dan dia bilang, hal yang paling berat selama di hutan, adalah mencari makan! Ups, itu bahkan hal yang untuk orang kota macam kita-kita sering jadi disepelekan. Kita sering banget membuang-buang makanan, dan sering juga makan secara kelewat berlebihan, sampai menimbulkan seribu satu gangguan kesehatan.

Dasarnya mantan tukang jahit, pekerjaan tangannya banyak di hutan itu. Dia memintal serat dari pepohonan untuk pakaian, untuk alas tidur juga, dan juga untuk semacam tas atau peti. Semuanya dia sembunyikan baik-baik di gua persembunyiannya. Guanya masuk ke dalam tanah, sekarang menjadi tempat kunjungan turis yang dilestarikan di Talofofo Falls Resort Park. Gua tersebut yang dibikin ulang, karena gua aslinya pernah rusak tersapu angin taifun.

Cerita penangkapannya sendiri cukup dramatis. 24 Januari 1972, pada suatu senja, saat sedang memancing di sungai Talofofo, Yokoi kepergok oleh dua pemburu lokal di Guam, lantas diuber-uber. Para pengubernya bilang, saat itu Yokoi mengenakan celana dan baju aneh, dianyam oleh dia sendiri dari serat-serat pohon. Dia masih membawa belati organik tentara Jepang. Saat dikepung, digebukin, dia tidak menyerah begitu saja. Tokh, akhirnya berhasil dibekuk juga oleh dua orang yang lebih besar badannya. Konon disebutkan oleh para penangkap, orang Jepang itu walaupun kecil badannya, tapi kuat sekali, dan jago gelut. Dia dibawa keluar hutan dengan sedikit luka memar akibat gebukan dua orang itu. Dia digelandang di bawah todongan senjata keluar hutan, dibawa ke kantor polisi terdekat. Di situlah awalnya dia menceritakan kisah yang membuat semua polisi tercengang-cengang.

Sebulan ditahan di Guam, dia lalu dipulangkan ke Jepang, dinaikkan pesawat jet charteran khusus. Di pesawat itu saja dia menangis tersedu-sedu saat melihat sekelebat Gunung Fuji. Lalu Dia dielu-elukan seluruh Jepang. Jutaan orang menonton detik-detik kepulangannya di televisi nasional Jepang. Saat itulah dia baru mendengar tentang adanya televisi, dia juga baru tahu tentang pesawat jet, dan soal bom atom, dia juga tidak tahu. Demi memberikan penghormatan kepadanya, ribuan orang Jepang spontan jejer di sepanjang highway dari bandara, melambaikan bendera Jepang, saat dia dinaikkan mobil diantarkan ke kampung halamannya. Disiarkan langsung juga oleh televisi saat dia ziarah ke kuburan di kampungnya, dimana sanak keluarganya dimakamkan, dan di situ dia juga melihat ada nisan kuburan atas namanya. Ditulis di situ: Shoichi Yokoi, meninggal di Guam 1944. Di koran, ditampilkan fotonya sedang dicukur rambut, yang disebutkan merupakan cukur rambut Yokoi yang pertama selama 28 tahun terakhir.

Sejak itu dia jadi selebriti dadakan. Dia sempat bingung sebentar, bagaimana mesti memulai hidup baru di sebuah negara, dan dunia, yang sudah lain sama sekali dengan yang pernah dia lihat terakhir kalinya tahun 40-an awal, yaitu saat dia terakhir kali naik kapal transpor militer, diberangkatkan perang, seperempat abad sebelumnya. Bisa dibayangkanlah bagaimana tercengang-cengangnya dia. Saat itu, Jepang sudah berubah sama sekali, tidak punya angkatan bersenjata, dan barusan muncul sebagai kekuatan industri dunia. Saat konferensi pers pertama, Yokoi yang dikelilingi fotografer dan reporter, benar-benar limbung dan linglung. Sudah terisolir seorang diri begitu lama, tahu-tahu dikeroyok wartawan segitu banyak. Kebayang banget. Dia sempat tidak bisa menjawab pertanyaan apapun. Lalu di koran-koran disebutkan Yokoi menyatakan, "Saya amat menyesal, saya tidak mengabdi pada yang mulia (kaisar) dengan memuaskan. Kami, tentara Jepang, telah diperintah untuk lebih baik mati dari pada terhina karena tertangkap dalam keadaan hidup."

Uniknya, tergerak oleh nilai-nilai spiritual dan tradisional, berbondong-bondong orang Jepang membanjiri Yokoi dengan uang dan hadiah-hadiah. Cewek-cewek juga berbondong-bondong menyerahkan diri kepadanya. Yaitu menyerahkan diri untuk minta diajak kawin oleh Yokoi tentunya, dan bukannya menyerahkan diri untuk dijadikan tawanan perang. Banyak orang kuatir, dia sulit beradaptasi dengan Jepang modern, ternyata tidak. Ya iyalah. Sedangkan beradaptasi dengan keadaan serba kekurangan di hutan saja dia bisa. Lalu begitulah kisahnya, tanpa pacaran tanpa apa, enam bulan setelah pulang, dengan pengaturan oleh berbagai pihak terkait, dia menikah November 1972, menggantikan hidupnya di gubuk terpencil di hutan guam, yang konon dia buat berpindah-pindah dan tersembunyi, dengan sebuah rumah di Aichi Prefecture dengan istrinya, Mihoko, yang pada saat dia meninggal di usia 82, istrinya berusia 69 tahun (per tahun 1997). Jadi, saat menikah, Mihoko umurnya 44 tahunan.

Setelah itu, dia banyak tampil menjadi komentator dan narasumber untuk urusan survival skills. Seperti kita ketahui, bahkan pasukan komando pilihan yang paling tangguh, kalau digojlok latihan survival diisolir di hutan sendirian, maka seminggu atau sebulan saja pasti kelenger-kelenger, weh, lha kok tentara Jepang ini ada yang bisa tahan dua puluh tahun lebih! Cukup unik, sebagaimana Nakamura dan Onoda, selama di hutan bertahun-tahun, kesehatan Yokoi prima. Tiga orang itu konon pada saat kembali ke peradaban giginya utuh, tidak ada lubangnya, dan bahkan Onoda bilang, selama hampir tiga puluh tahun di hutan, dia sakit, demam, cuma satu kali saja! Ini bisa jadi pelajaran untuk kita. Jadi, untuk mencegah gigi sensitif, mungkin anda tidak perlu pakai pasta gigi merek tertentu. Sebaliknya, mungkin sebaiknya anda justru mengurangi atau berhenti menyikat gigi! Kambing dan monyet aja nggak pernah sikat gigi nggak pernah terserang gigi sensitif, bener nggak?

Mungkin karena kehidupan yang alami orang jadi sehat, atau bisa juga karena seleksi alam. Yang lemah-lemah sudah pada punah, yang tersisa tinggallah yang tertangguh. Soal kemampuan survivalnya di hutan, menarik juga untuk dicermati. Onoda lantas menulis buku best-seller, yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris sebagai "No Surrender: My Thirty-Year War". Yokoi pun menulis buku best-seller juga (atau ada penulis yang menuliskan untuk dia ya? Tauk deh. Kalau saya lihat di Amazon.com, buku Yokoi bukanlah autobiografi seperti buku Onoda). Sana-sini jadi narasumber untuk kemampuan survival, tahun 1974 Yokoi mencalonkan diri jadi anggota parlemen, tapi gagal. Tahun 80-an, dia sempat bilang, "Saya tidak bisa memahami, mengapa kota-kota mesti membakar sampah. Keluarga kami, tidak menghasilkan sampah. Kami memakan semua makanan sampai suapan terakhir. Bagian dari makanan yang tidak bisa dimakan, kami gunakan sebagai pupuk di halaman kami." Dia juga menyarankan agar lapangan golf dibajak dan ditanami kacang-kacangan.
Sekarang riwayatnya telah berakhir. Kematiannya tahun 1997 diberitakan luas di Jepang. Kantor berita Kyodo mengabarkan bahwa teman dan tetangganya berbondong-bondong melayat di Nagoya, memberikan penghormatan terakhir kepadanya sebagai 'pejuang yang tidak pernah menyerah'. Istrinya juga menyatakan kata-kata yang indah saat di hari kematiannya itu. Dia bilang, dia merasa kehilangan permata hati, "a treasure from my heart". Dia bilang, "Saya tidak bisa memikirkan apa-apa lagi sekarang. Saya akan kesepian. Kami telah mendapatkan kehidupan yang bahagia selama 25 tahun, dan saya sampaikan kepada suami saya: terima kasih."

Dia dikuburkan di pekuburan Nagoya, di bawah nisan pesanan ibunya tahun 1955, yang memang sudah ditulis atasnamanya, dibuat dan dipasang di situ sejak ibunya masih hidup. Akhirnya terpakai juga tuh kuburan kosong. Sekitar enam tahun sebelum meninggal, tahun 1991, Yokoi berkesempatan audiensi, dipertemukan dengan Kaisar Jepang, bukan Hirohito kaisar jaman perang, tapi waktu itu Akihito, dan bukannya aki-aki. Pertemuannya terjadi pada suatu resepsi di istana kaisar di Tokyo. Pada kesempatan itu, dia begitu diliput emosi yang luar biasa, dan dia sampaikan pada kaisarnya, dikutip oleh New York Times, "Yang Mulia, saya telah pulang ke rumah. Penyesalan saya amat mendalam, karena saya tidak bisa mengabdi pada Tuan dengan baik. Dunia tentu sudah berubah, tapi keteguhan saya untuk mengabdi pada Tuan tidak pernah berubah." Dia menyatakan, pertemuan dengan kaisar itu adalah kehormatan terbesar untuk seumur hidupnya. Belakangan dia juga mendeklarasikan, bahwa dia terus hidup di gua itu demi sang kaisar, dan karena dia meyakini semangat Jepang dan kaisar Jepang. Entah bagaimana perasaan kaisar pada waktu itu, tapi bagi kebanyakan generasi muda Jepang, pernyataan ala ksatria jadul begitu konon dianggap agak malu-maluin. Dikit-dikit refer ke kaisar, dikit-dikit kaisar. Capek deh. Tokh, dia tetap dikagumi karena dianggap mencerminkan semangat 'Ganbaru' ala Jepang, pantang menyerah, berjuang habis-habisan.


Sumber : Sejarah Dunia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)