Selasa, 01 Januari 2013

GUNUNG TARAKANI TEMPO DULU


 Dahulu kala, dijaman batu tua, gunung Tarakani memiliki puncak yang tinggi menjulang hingga diselimuti kabut dan awan. Penguasa gunung Tarakani bernama Buku Tarakani. Dia menjaga dan mengawasi semua lembah, ngarai dan sungai serta hutan belantara. Puncak yang tinggi menjulang dan dikelilingi segarah hijau bak permadani menjadikan Tarakani tempat berteduh yang nyaman untuk semua binatang hutan. Tak ketinggalan, burung-burung di udara pun menjadikan gunung Tarakani sebagai istana hidup.


Di tengah kemegahan inilah Buku Tarakani menjadi angkuh, tidak lagi menjadi pelindung, pengayom dan penjaga. Ke laut dia menerpa badai dan menerjang ombak, di darat dia membakar dan merajam hutan belantara. Ketenangan margasatwa terusik. Kabut dan awan menjadi murka, halilintar menggelegar, kilat sambar-menyambar, petir membinasakan dan memusnakan, membuat kubu kokoh Tarakani terancam. Lahar panas menggerogoti pijakan kakinya, magma bergemuruh dan bergelora mengeluarkan isi perutnya. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Tarakanipun terguncang oleh keangkuhannya.

Letusan tidak dapat lagi dielakkan. Puncaknya, Tarakani yang tinggi kini pecah dan patah menjadi dua bagian yakni Tarakani Kecil dan Tarakani Besar. Tidak berhenti disitu saja letusan juga mengeluarkan isi perut Tarakani yang panas dan menyirami daerah bagian timur mulai dari daerah aliran kali Wasi, Seki hingga pantai Somola yang membentuk tanjung Bongo menyusur Pantai Wauo. Gelora isi perut yang tidak dapat tertahankan itu akhirnya melepas semua magma dan lahar panas dan hanya tinggal genangan air yang tertinggal. Masyarakat menamakan tempat itu Talaga Duma yang memiliki makna Duma O Tarakani matubu dalutu deisisawa (tapi puncak Tarakani tidak tenggelam dan hilang).

Pengalaman hidup Buku Tarakani ini kemudian mengukir untaian falsafah orang Galela. Madalil ka lue Talaga, manonako ka Tala Tarakani, mabirahi ka Leru Tarate, mabiara ka o namo Lori. Makna yang tersirat dalam falsafah ini adalah keramah-tamahan orang Galela seirama dengan derasnya arus talaga.

Kecantikan, kemolekan dan kegagahan orang Galela tidak bisa melebihi keindahan bunga teratai, jika melebihi maka dia akan jatuh dengan memperjual-belikan dirinya. Namanya orang Galela bisa hidup rukun bersama dengan bangsa dan suku apa saja dan dalam hidup ceria bersama seperti kicauan burung Lori saat bermain bersama dengan teman-temannya di air (maro o Lori iciriri de igiliri).

Jika memasuki teluk daerah Galela dari kejauhan sudah tampak gunung Tarakani. Tampak gunung Tarakani ada dua, yakni Kecil dan Besar yang adalah patahan puncak. Berbeda dengan Tarakani Besar, Tarakani Kecil tidak memiliki lubang. Oleh masyarakat areal kaldera itu telah dimanfaatkan untuk menanam kelapa, coklat, pala dan pisang. Di bawah kedua kaki gunung Tarakani itulah terbentang tiga telaga yaitu Duma, Kapupu Besar (sekarang telaga Makete) dan Kapupu Kecil serta Kojarati (berada di desa Makete dan Ngidiho) diduga terbentuk akibat longsoran tanah ketika letusan terjadi (Kapupu memiliki arti pada saat terjadi letusan di dua area itu nyaris tenggelam bersama disaat longsor ke dalam, dalam bahasa Galela kaimasigupupuku ya lutu). Sedangkan bebatuan yang dikenal dengan batu hangus adalah bentukan lahar panas yang mengering dan terbentang mulai dari tanjung Bongo, pantai Wauo membujur ke selatan areal hutan Mamuya hingga Seki dan kali Wasi. Bagi masyarakat Galela yang menempati dan mengintari ketiga talaga dalam jejeran Soa Maadu dan Soa Mangowo juga bagian pesisir dalam Soa Sio semua kini tinggal kenangan dan mitos.

Menyimak makna yang tersirat dari cerita ini mengingatkan orang Galela dan masyarakat yang mendiami daerah Galela jika keangkuhan dan kesombongan menjadi busana hidup dan melupakan hinolah potulu kasi la pomoku de posuyu serta porame-rame deporubu-rubu pofato depofara de pomakidiko naro-nari hilang dari peradaban orang Galela karena pengaruh jaman maka jatidiri ke-Galelaan itu akan hilang dalam hidup anak-anak Galela. Karena itu jangan heran apabila bencana kerap menghantui hidup.

Kini tinggal bagi generasi sekarang, maukah masyarakat Galela menjadikan semua potensi ini menjadi obyek wisata yang layak dikunjungi atau sebaliknya, mengambil dan mengubah serta menghilangkan semua fakta. Ingat, bumi yang kita pijak dan diami adalah pinjaman dari anak cucu kita. Untuk itu ketika memanfaatkannya ingatlah mereka, bukan hanya diri sendiri


Sumber :Theo S. Sosebeko

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)