Minggu, 01 Januari 2012

Pemikiran Ibn Khaldun : Ekonomi dan Insitusi Sosial

Ibn Khaldun memberikan posisi yang penting, meskipun tidak eksklusif, kepada faktor ekonomi dalam sejarah. Simon menunjukan bahwa kegiatan intelektual seseorang, seni dan ilmu pengetahuan, sikap moral dan perilakunya, gaya hidup dan selera, standar kehidupan, serta adat didefinisikan oleh Ibn Khaldun melalui beberapa tingkat produksi. Hal tersebut dapat dilihat di Mukadimah: harus diketahui bahwa perbedaan kondisi diantara orang-orang merupakan hasil dari cara mereka yang berbeda dalam mencari penghidupan. Organisasi sosial memungkinkan mereka untuk bekerjasama menuju akhir yang mereka capai dan memulainya dengan kebutuhan hidup sederhana, sebelum mereka mendapatkan kenyamanan dan kemewahan. Meskipun masalah ekonomi mendapat tempat penting dalam Mukadimah, faktor-faktor non-ekonomi tidak dikesampingkan dari penekannanya terhadap pengaruh sosial. Ibn Khaldun memberikan pentingnya asabiyah (solidaritas sosial) sebagaimana dalam sejarah. Walaupun saling bergantung dengan fenomena lainnya seperti agama, kewenangan kerajaan, moral, ilmu pengtahuan, dan organisasi ekonomi, asabiyah merupakan variable independen penting dalam perkembangan masyarakat. Berkebalikan dengan Simon dan Ayad yang melihat materialisme ekonomi sebagai elemen penjelas yang penting dalam karya Ibn Khaldun, pandangan Putih asabiyah, “sekali motif kekuatan dari proses sejarah dan prinsipnya diketemukan, maka mampu menjelaskan prosesnya.” Namun demikian dua posisi tersebut dapat disejajarkan untuk melihat pentingnya hubungan dialektika antara solidaritas sosial dengan perubahan struktur sosial.
Sama seperti Marx, Ibn Khaldun memiliki pandangan yang mirip tentang peran buruh dalam hubungan sosial. Contoh, Ibn Khaldun menganggap bahwa buruh merupakan suatu pondasi utama dalam masyarakat dan keuntungan diwujudkan dari buruh. Menurutnya, manusia bertahan hanya dengan bantuan property. Tanpa properti orang tidak memiliki insentif untuk bekerjasama dengan orang lain dan hidup dalam kelesuan. Secara spesifik Ibn Khaldun dan Marx mengekspresikan penghinaan terhadap buruh dan monopoli. Baik Ibn Khadun dan Marx memiliki alasan yang berbeda. Marx percaya bahwa orang diasingkan dari buruh dalam sistem dimana barang privat mendominasi karena hubungan yang sejati antara perkerjaan orang yang satu dengan yang orang yang lainnya adalah communal labour. Bagi Ibn khaldun orang dapat diasingkan hanya jika insentifnya untuk keuntungan dihancurkan, karena manusia adalah self –seeking.
Menurut Sorokin masyarakat akan terstratafikasi. Menurut Ibn Khaldun, pendapatan atau kekayaan merupakan faktor penting dalam menentukan stratifikasi sosial, meskipun begitu faktor-faktor lain tidak dapat diacuhkan. Selain pemimpin agama, menurutnya, stratifikasi terdiri dari mufti dan imam. Hirarki sosial dari Ibn Khaldun sangat kompleks. Yang tertinggi adalah keluarga kerajaan, pejabat pemerintahan, dan titel-titel lainnya. ‘Rank berarti kekutan yang memungkinkan manusia menjadi aktif di antara temannya, dibawah kendali dan larangan. …’
Dalam hubungannya dengan rank, Ibn Khaldun mendiskusikan dimensi dari stratifikasi sosial:
1. Status Order: rank secara luas terdistribusi di antara orang-orang, mereka dibedakan berdasarkan prestige dan harga diri. Orang yang memiliki rank dengan harga diri tinggi akan dalam setiap aspek material akan lebih beruntung dari orang yang tidak punya rank. Alasannya adalah orang yang termasuk dalam rank dilayani oleh buruh atau lainnya, dan nilai yang direalisasika dari buruh tersebut menjadi keuntungan.
Seorang individu yang kelas ekonomi sosialnya lebih rendah, biasanya ingin memperbaiki rangkingnya. Dalam kata-katanya: tiap anggota dari kelas yang lebih rendah mencari dukungan dari kelas yang satu tingkat diatasnya, dan yang mendapatkannya, akan menjadi lebih aktif diantara orang-orang yang berada dibawah kendalinya dalam proporsi keuntungan yang mereka dapat. Jika rank memang berpengaruh, keuntungan yang bertambah dari tersebut relatif besar. Jika ini dilarang dan tidak penting, maka keuntungannya menjadi relatif kecil. Sesorang yang tidak punya rank meskipun ia memiliki uang, memperoleh keberuntungan hanya sesuai dengan proporsi buruh yang mampu menghasilkan, properti yang dia miliki, dan sesuai dengan usahanya. Sehingga seseorang yang tidak punya rank dan keuntungannya terbatas, mereka akan hidup sederhana, dan somehow menghindar dari tekanan kemiskinan.
2. Life Chances: menurutnya kesempatan hidup adalah hasil dari penguburan dan bujukan. Hal tersebut merupakan alas an mengapa beberapa orang mampu memperoleh rank yang menghasilkan kebahagiaan dan keuntungan.
3. Social Mobility: yang dimaksud mobilitas sosial di sini adalah mobilitas vertikal, baik ke atas maupun ke bawah. Menurutnya perpindahan kelas mungkin terjadi, terutama di urban areas. Banyak yang dari kelas bawah naik menjadi kelas atas dan sebaliknya.
4. Social Power: menurutnya hal ini adalah fenomena alam. Ini terdapat dalam masyarakat karena dibutuhkan untuk mengatur aktivitas manusia. Kepemimpinan adalah kewajiban dan sebagai pengaruh yang membatasi. Masyarakat tanpa kelas atas adalah tidak mungkin. Ia menyimpulkan bahwa sekelompok orang yang tinggal bersama tanpa peraturan mungkin akan menjadi buas dan bertengkar satu sama lain, daripada kerjasama sosial. Di sini ia menunjukan orientasi kelas atas yang kuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)