Sabtu, 31 Desember 2011

PROFILE KABUPATEN HALMAHERA UTARA


Pertanian
Jenis tanaman pangan yang cocok untuk dikembangkan di daerah dengan struktur tanah yang ada, diantaranya tanaman pisang, padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, ubi tanah serta beberapa jenis buah-buahan, misalnya jeruk, langsat, rambutan, mangga dan durian.
Dengan menggunggulkan jenis tanaman pangan, yaitu pisang, ubi kayu dan jagung, petani di daerah ini telah memanfaatkan lahan pertanian seluas 27.058 ha yang sudah diolah dari ketersediaan lahan seluas 130.035 ha lahan pertanian, sisanya seluas 103.247 ha tercatat sebagai lahan yang belum diolah.
Sampai dengan tahun 2004 perkembangan penglolahan sektor pertanian dilihat dari kelompok komoditi adalah:
  • Tanaman palawija mencapai luas panen 614 ha dengan produksi sebesar 2.149 ton
  • Tanaman padi ladang mencapai luas panen 213 ha dengan produksi sebesar 256 ton
  • Tanaman jagung mencapai luas panen 129 ha dengan produksi sebesar 323 ton
  • Tanaman ubi kayu mencapai luas panen 715 ha dengan produksi sebesar 8.580 ton
  • Tanaman ubi alar mencapai luas panen 673 ha dengan produksi sebesar 5.294 ton
Program Pengembangan Potensi Pertanian antara lain:
  • Padi sawah
  • Kacang tanah
  • Kedelai
  • Pengembangan industri pengolahan hasil pertanian
  • Pembangunan Unit Balai Benih Utama
  • Pengembangan jagung
  • Pengembangan hortikultura
 Perkebunan
Pada sub sektor perkebunan juga terdapat beberapa jenis tanaman yang menjadi unggulan, yaitu:
  • Kelapa, luas areal 55.435 ha dengan produksi sebesar 66.198,6 ton
  • Cengkeh, luas areal 3.179,5 ha dengan produksi sebesar 320,71 ton
  • Kakao, luas areal 6.368 ha dengan produksi sebesar 3.009,8 ton
  • Pala, luas areal 2.449,5 ha dengan produksi sebesar 980,4 ton
  • Kopi, luas areal 459 ha dengan produksi sebesar 105,2 ton
 Peternakan
Pada sub sektor peternakan beberapa jenis hewan ternak sangat cocok dikembangkan, yaitu ternak kambing unggul dan lokal, sapi bibit dan potong, ayam potong (broiller), ayam petelur (layer) serta babi. Terdapat juga ternak bantuan pemerintah yang telah dikembangbiakkan, diantaranya sapi bali bibit dan ayam buras.
Kehutanan
Luas areal hutan ± 536.600 ha, terbagi ke dalam beberapa jenis, antara lain:
  • Hutan lindung: ± 145.500 ha
  • Hutan produksi: ± 26.250 ha
  • Hutan tanaman industri: ± 1.500 ha
Pertambangan
Sumber daya pertambangan yang potensial di Kabupaten Halmahera Utara sebagian besar telah teridentifikasi lokasi keberadaannya melalui penyelidikan dan eksplorasi secara bertahap yang dilakukan oleh para investor.
Untuk bahan galian yang termasuk klasifikasi golongan B, pertambangan emas misalnya, investor PT. Nusa Halmahera Minerals mendapat izin eksploitasi (kontrak karya) pertambangan emas di wilayah Halmahera Utara (Kecamatan Kao), disamping itu pemerintah memberikan kesempatan kepada penduduk melalui Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dengan model pertambangan skala kecil yang dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal.
Selain tambang emas di Kecamatan Kao terdapat juga pertambangan emas di Kecamatan Loloda (Desa Dotia). Disamping itu Kecamatan Morotai memiliki potensi sumber daya energi yang diperkirakan sebesar 0,0072 juta barel dan energi gas bumi sebesar 0,018 Tscf, juga terdapat sumber daya energi panas bumi di Kecamatan Galela (Desa Mamuya). Sedangkan di Kecamatan Malifut (Desa Malapa) terindikasi mengandung bijih Nikel.
Disamping itu juga terdapat pertambangan yang termasuk klasifikasi bahan galian golongan B, seperti Mangan di Kecamatan Morotai Selatan, Desa Posi-Posi Rao dan Kecamatan Loloda Utara.
Di Pulau Doi juga terdapat Pasir Besi/Titan dan Tembaga.
Bahan galian golongan C seperti belerang, batuan andesit, batu gamping dan kaolin/tras tersebar di beberapa wilayah di Halmehera Utara, seperti di Kecamatan Galela, Morotai Utara dan Morotai Selatan.
Kelautan
Berdasarkan hasil Penelitian Balai Penelitian Perikanan Laut (1983) potensi sumber daya ikan (standing stock) yang terdapat di perairan Halmahera Utara diperkirakan mencapai 644.382,48 ton dengan jumlah potensi lestari yang dapat dimanfaatkan (Maximum Sustainable Yield, MSY) sebesar 347.191,24 ton/tahun, untuk ikan pelagis sebesar 211.590 ton/tahun dan ikan demersal 135.005,24 ton/tahun.
Dari data empiris tersebut menunjukkan bahwa potensi sumber daya perairan laut Halmahera Utara cukup besar dan mempunyai prospek cerah, jika dimanfaatkan dan dikelola secara efisien dan berkelanjutan.
Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi andalan dan akan menjadi salah satu prime mover karena kontribusinya cukup besar bagi perikanan pengolahan. Sampai dengan tahun 2002 kontribusi produksi perikanan tangkap sebesar 98.782,21 ton atau 66,36% dengan nilai produksi sebesar Rp. 475.209,332 atau 62,54% dari total produksi secara keseluruhan.
Kegiatan perikanan tangkap menghasilkan berbagai jenis hasil tangkapan, berupa ikan konsumsi bernilai ekonomis tinggi diantaranya ikan pelagis besar seperti Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tuna (Thunnus spp), Tongkol (Euthynnus spp) dan jenis-jenis iklan pelagis kecil seperti Kembung (Rasralliger), Layang (Decapterus), Tembang (Sardinella spp), Selar (Selaroides spp) dan beberapa jenis iklan pelagis ekonomis lainnya yang ditangkap oleh masyarakat nelayan disekitar perairan pantai. Beberapa jenis demersal yang diusahakan oleh masyrakat nelayan dan pengusaha perikanan antara lain Kerapu (Ephinephelus spp), Lolosi (Caesio spp), Beronang (Siganus spp), Kakatua (Scars spp), Kakap (Lates spp) serta jenis-jenis lainnya yang belum dikomersilkan dan masih terbatas pada konsumsi masyarakat.
Selain jenis-jenis sumberdaya ikan, beberapa jenis sumberdaya bernilai ekonomis tinggi dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, seperti Krustacea, Teripang Telur (holothuroidea), Molusca dan Rumput Laut.
Adapun peralatan penangkapan ikan yang digunakan oleh sebagian besar nelayan di wilayah Halmahera Utara bersifat tradisional, seperti jaring dan alat penangkapan lainnya, dilengkapi dengan sarana penangkapan seperti perahu/ kapal motor.
Luasnya kawasan pesisir dan laut dengan kualitas perairan memungkinkan untuk pengembangan budidaya laut, terutama Kerapu, Lobster, Rumput laut dan Mutiara. Tipe pantai yang landai pada beberapa kawasan dan tersedianya suplai air tawar yang berkualitas merupakan salah satu kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya payau. Bahkan beberapa kawasan memiliki sumber air tawar yang berkualitas menjadi alternatif bagi pengembangan budidaya air tawar (kolam).
Sampai saat ini optimalisasi dan produktivitas perikanan budidaya di Kabupaten Halamahera Utara masih rendah. Hingga tahun 2002 luas areal budidaya laut, payau dan kolam baru mencapai 128.110 ha. Dari luas tersebut telah dicapai produksi sebesar 46.550 ton atau 0,03% dengan nilai sebesar Rp. 53.706.500 atau 7,07% dari total volume dan nilai produksi.
Hampir sebagian besar masyarakat di Kabupaten Halmahera Utara mendiami kawasan pesisir dan bergantung pada ekosistem tersebut sebagai sumber kehidupan sosial ekonomi. Aktivitas mereka seperti penangkapan ikan dan biodata laut lainnya, pedagang kecil, petani kebun, penambang karang serta penebang pohon bakau.
Selain kawasan pesisir, wilayah Kabupaten Halmahera Utara memiliki pulau-pulau kecil yang berkarakteristik spesifik, terisolasi dan mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies endemik yang tinggi serta karakteristik sosial ekonomi dan sosial budaya yang spesifik pula. Sebagian besar pulau-pulau kecil di Kabupaten Halmahera Utara bertipe yang vulkanik dan pulau karang, tipe pulau ini dapat terlihat di sekitar Pulau Morotai dan beberapa pulau-pulau kecil lainnya.
Eksosistem alami yang terdapat di kedua kawasan yang ada di Kabupaten Halmahera Utara antara lain, terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, pantai berpasir, pantai berbatu, formasi pascaprea, estuari, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain, kawasan pariwisata, pelabuhan dan pusat-pusat pendaratan ikan, areal budidaya dan kawasan pemukiman masyarakat.
Pariwisata
Di wilayah kabupaten Halmahera Utara dapat ditemui berbagai objek unik dan spesifik yang sangat berpotensi guna dikelola dan dikembangkan menjadi objek wisata.
Panorama pesisir pantai yang berpasir putih, pesona taman laut, hamparan pulau-pulau, keanekaragaman hayati dan masih banyak lagi keindahan alam yang belum tereksplorasi.
Wilayah Kao dan Morotai merupakan zona nostalgia perang dunia kedua dimana kedua tempat ini memiliki peran strategis pada saat itu. Beberapa artefak sisa perang dunia kedua, seperti meriam artileri, bangkai kapal perang, kendaraan ampibi, landas pacu serta bunker perlindungan masih dapat ditemukan di kedua wilayah ini. Bahkan salah satu pulau di wilayah morotai yakni pulau zum-zum pernah dijadikan Markas sekaligus tempat peristirahatan oleh jendral besar Mac arthur, salah seorang pemimpin tentara sekutu di wilayah pasifik pada saat itu.
Sementara itu di bidang seni dan budaya terdapat jenis-jenis tarian, jenis kerajinan tangan, musik tradisional, bahasa yang berbeda serta adanya akar budaya adat Hibua Lamo. Beberapa diantaranya sudah hampir punah. Salah satu yang cukup menarik adalah komunitas suku Togutil yang sebagian masih mendiami wilayah hutan Halmahera, komunitas ini diyakini merupakan turunan dari serdadu Portugis yang melarikan diri ke dalam hutan pada masa perang kolonial.
Dengan pengelolaan yang optimal, potensi pariwisata di Kabupaten Halmahera Utara dapat menjadi salah satu komoditas unggulan dan memungkinkan wilayah ini untuk menjadi daerah tujuan wisata baru yang tidak kalah menariknya dibanding daerah tujuan wisata lainnya di Indonesia.
  • Tarian Cakalele, Tide-tide, Togal, Gala dan lain-lain
  • Musik tradisional: Musik Bambu, Jangere dan lain-lain
  • Upacara Adat Hibua Lamo
  • Keseharian masyarakat tradisional agraris maritim
  • Suku Togutil
  • Bangkai Meriam: Galela
  • Panser: Morotai Selatan
  • Meriam dan Bangkai Kapal PD II: Kao
  • Bangkai Kapal Tosimaru: Malifut
  • Bandara "The Seven Strips": Morotai
  • Bangkai Kapal Amfibi: Morotai
  • Bunker Jepang dan Amerika: Kao, Pulau Bobale dan Morotai
  • Pantai Luari: Tobelo
  • Panorama Laut Tupu-tupu: Tobelo
  • Taman Laut Tagalaya: Tobelo
  • Pulau Zum-zum: Morotai Selatan
  • Pantai Dodola: Morotai Selatan
  • Pulau Bobale: Kao
  • Pantai Malifut: Malifut
  • Pantai Panamboang: Loloda
  • Gunung Dukono: Tobelo
  • Dabau Duma: Tobelo
  • Sumber Air Panas: Tobelo
  • Gua: Galela
  • Pulau Doi: Galela
  • Pulau Kahatola: Morotai Selatan
  • Air Terjun Barangka Dolong: Loloda
Penduduk
 Pertambahan
Penduduk Kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2003 tercatat sebanyak 165.326 jiwa, sedangkan penduduk Kabupaten Halmahera Utara pada tahun 2007 berjumlah 220.765 jiwa.
Kepadatan
Jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten Halmahera Utara secara keseluruhan, maka tingkat kepadatan penduduk tertinggi adalah di Kecamatan Tobelo yakni 57.42 jiwa/km², sedangkan tingkat kepadatan penduduk terendah adalah di Kecamatan Morotai Selatan Barat, yakni 24.83 jiwa/km².
Sebaran
Sebaran tertinggi berada di Kecamatan Tobelo (20,72%), sedangkan terendah berada di Kecamatan Malifut (4,69%).
Faktor yang memengaruhi tidak meratanya sebaran penduduk adalah:
  • Topografi wilayah
  • Kurangnya aksesibilitas jalan darat
  • Peluang ekonomi
[sunting] Nisbah Jenis Kelamin
Jumlah penduduk wanita lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Nisbah jenis kelamin di Kabupaten Halmahera Utara ini adalah 1,02. Artinya terdapat 102 Laki-laki di antara 100 penduduk wanita. Secara umum kondisi ini menunjukkan keseimbangan jumlah penduduk di kedua kelompok.
[sunting] Sosial Budaya
Sejak dulu suku-suku di Halmahera Utara telah mengenal istilah O Dumule (bahasa Tobelo) dan De O Doro (bahasa Galela) yang artinya bertanam di kebun. Secara turun temurun telah dikenal berbagai jenis pisang dan umbi-umbian sebagai tanaman hasil pertanian, juga dikenal sistem berladang padi gogo. Masyarakat Halmahera Utara juga mengenal cara meramu pohon sagu untuk diambil patinya. (Menurut Dr. Joppy Ayawaila, 1992).
Selain bertani, masyarakat Halmahera Utara juga berburu dan menangkap ikan. Hal ini dapat dilihat dengan dikenalnya sejenis alat-alat untuk berburu binatang di hutan yang disebut O Kuama De O Toimi dan istilah O Gahioko, yaitu menentang badai untuk mencari ikan yang mereka sebut Yo Koiho De Yo Yaungu, yakni mengejar dan memancing ikan.
Sisi lain dari mata pencaharian masyarakat Halmahera Utara adalah Yo canga-canga di mana mereka mengarungi samudra untuk merampok para pedagang. Wilayah Yo canga-canga ini telah mengantarkan masyarakat Halmahera Utara mengarungi samudera ke daerah Papua, Banggai dan Mangindanau pada masa itu. Petuangan misi Yo canga-canga membuat masyarakat Halmahera Utara menembus zona internasional.
Masyarakat Halmahera Utara mewarisi tatanan adat yang telah dibentuk semasa petualangan para leluhur untuk mencari permukiman baru di mana mereka berada di perjalanan sampai dengan menetap dan membentuk komunitas dalam peradaban awal di Telaga Lina.
Seni budaya masyarakat Halmahera Utara merupakan pancaran ketulusan jiwa dan semangat mensyukuri akan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap tanah persadanya. Ini terungkap dari berbagai jenis kesenian yang selalu mewarnai setiap upacara seremonial adat maupun upacara-upacara sakral yang dipentaskan pada setiap kesempatan. Pemahaman ini disebut O Guru'mini Ma'oa Awi'ngale yang artinya Yang Kuasa Mengilhami.
Ekonomi
Penduduk Halmahera Utara bergantung pada pertanian, terutama perkebunan kelapa dan cengkeh. Luas areal perkebunan kelapa tahun 2002 sebesar 47.900 hektar dengan produksi 68.500 ton. Kecamatan Tobelo, Tobelo Selatan dan Galela paling banyak menghasilkan komoditas kelapa.
Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung perekonomian seperti pelabuhan, bank, pasar maupun aktivitas bisnis primer secara dominan terkonsentrasi di kota ini. Hal ini menjadikan peranan kota Tobelo lebih dari sekadar pusat administrasi pemerintahan. Kota ini menjadi urat nadi aktivitas bisnis di Halmahera Utara.
Keuangan
Membaiknya stabilitas ekonomi tidak terlepas dari peningkatan fiskal sebagai pelaksanaan dari konsolidasi fiskal yang dapat mendorong peningkatan pendapatan daerah. Pada tahun 2005 faktor yang mendorong peningkatan sumber-sumber pembiayaan adalah APBD Kabupaten Halmahera Utara yang mencapai Rp. 300.597.247.000, ini diperoleh dari berbagai sumber penerimaan daerah.
Sumbangan yang terbesar masih didominasi oleh dana pembangunan, baik DAU, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak serta Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jika dilihat dari konstribusi komponen sumber penerimaan daerah terhadap APBD tahun 2005. Selain itu sistem penganggaran dewasa ini secara umum mendorong tumbuhnya ketahanan fiskal di daerah dari sisi pendapatan diperkirakan tetap terjaga sehingga memberikan landasan yang kuat untuk penyusunan APBD Kabupaten Halmahera Utara ke depan.
Faktor utama yang mendorong penduduk untuk menetap di suatu wilayah adalah daya tarik aktivitas perekonomiannya. Dengan adanya aktivitas ekonomi maka penduduk dapat memperoleh pekerjaannya sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan demikian terdapat keterkaitan yang erat antara penduduk di suatu wilayah dengan aktivitas di wilayah tersebut.
Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan PDRB Tahun 2005 harga konstan tercatat sebesar 373.693,21 juta rupiah. Jumlah ini meningkat 50.776,52 juta rupiah dari tahun 2003.
Stabilitas moneter yang membaik tersebut belum berhasil mendorong perekonomian secara berarti. Dalam tahun 2003, perekonomian Kabupaten Halmahera Utara bertambah 2,93% dan meningkat pada tahun 2004 menjadi 3,33%; kemudian 2005 meningkat menjadi 3,54%. Ini menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan perekenomian Kabupaten Halmahera Utara dari tahun 2003 sesuai dengan kontribusi ekonomi dari 9 sektor di Kabupaten Halmahera Utara.
Infrastruktur
Bandar Udara
Bandar Udara terdapat di Kao, Galela dan Daruba.
Pergerakan eksternal dengan transportasi udara, tapi masih dalam lingkup Kabupaten Halmahera Utara adalah Kao-Ternate, Galela-Ternate dan Daruba-Ternate.
Pelabuhan Laut
Pelabuhan Tobelo merupakan pelabuhan kolektor (collector port) sebagai pelabuhan antar pulau dari pusat kegiatan wilayah (Pelabuhan Ternate) ke Pusat Kegiatan Lokal dan Eksternal, dengan rute Tobelo-Surabaya, Tobelo-Manado/Bitung. Pelabuhan Tobelo sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan Kabupaten Halmahera Utara, lebih khusus daerah Tobelo.
Pelabuhan berfungsi juga sebagai pintu gerbang yang menghubungkan Wilayah Maluku Utara dengan wilayah lain di Sulawesi, Papua, Ambon, Jawa dan Kalimantan.
Selain pelabuhan Tobelo terdapat beberapa pelabuhan yang tersebar di wilayah kabupaten Halmahera Utara, antara lain:
  • 1 pelabuhan regional di Daruba
  • 4 pelabuhan lokal di Padiwang, Wayabula, Galela dan Bare-Bare.
Jalan
Wilayah Kabupaten Halmahera Utara dilintasi oleh jaringan jalan provinsi Trans Halmahera yang sekaligus merupakan jalan kolektor primer di wilayah ini.
Ditinjau dari kondisinya, jaringan jalan di wilayah Kabupaten Halmahera Utara pada umumnya berkondisi baik dengan jenis pengerasan aspal dan beton.
Sistem transportasi darat eksternal adalah jaringan jalan Trans Halmahera, termasuk angkutan penyeberangan yang keluar wilayah kabupaten, seperti Tobelo-Bitung.
Listrik
Pelayanan listrik di Kabupaten Halmahera Utara dilayani oleh PLN Wilayah IX Ranting Tobelo yang mencakup seluruh wilayah utara Kabupaten Halmahera Utara dengan penyebaran PLTD di 5 lokasi.
Telekomunikasi
Untuk menunjang arus informasi dari/ke Kabupaten Halmahera Utara ditunjang dengan prasarana pos dan telepon. Jumlah fasilitas pelayanan pos yang terdapat di wilayah kabupaten sampai tahun 2003 terdiri dari 6 kantor pos dan giro.
Sampai dengan tahun 2004, PT. Telkom telah memiliki pelanggan di Kabupaten Halmahera Utara sebanyak 777 pelanggan. Selain sambungan telepon langsung sarana telekomunikasi lain yang ada adalah warung telepon. Adapun jenis sarana telekomunikasi lainnya yang ada berupa All Band/ Icom / Kenwood.
Letak
Terletak di tepi utara Semenanjung Halmahera dan berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, merupakan keuntungan geografis bagi Kabupaten Halmahera Utara. Hal ini secara historis telah terbukti pada periode perang dunia kedua, dimana wilayah Halmahera Utara khususnya Kao dan Pulau Morotai menjadi rebutan antara pihak Jepang dan sekutu guna dijadikan basis strategis untuk wilayah pasifik. Karenanya wilayah Kabupaten Halmahera Utara sangat memungkinkan untuk dijadikan gerbang niaga internasional, baik untuk skala Provinsi Maluku Utara atau bahkan Indonesia.
Batas Wilayah
Utara
Timur
Selatan
Barat
Topografi
Kemiringan lereng di daratan Kabupaten Halmahera Utara sangat bervariasi, di antaranya:
Jenis
 % Daratan
 % Total
Datar
0-2
33,5
Bergelombang
2-15
18,23
Berbukit
15-40
23,17
Bergunung
> 40
25,05
Geologi dan Fisiografi
Sebagian besar Kabupaten Halmahera Utara adalah daerah pegunungan yang didominasi oleh formasi batuan gunung api (Andesit dan batuan beku Basaltik). Daerah pegunungan merupakan bentangan alam dengan puncak tajam dan punggung curam serta lereng yang curam (sekira 40% daratan).
Di Semenanjung Utara Pulau Halmahera terdapat barisan gunung api aktif dan non aktif dengan bentuk dan struktur yang sangat khas. Pada bagian ini dataran aluvial tidak ditemukan, tetapi memasuki daerah Kao ditemukan dataran alluvial yang luas pada daerah pedalaman, dataran vulkanik yang berombak dan dataran alluvial berawa secara lokal. Pulau Morotai memiliki banyak kesamaan dengan Pulau Halmahera bagian utara yang dicirikan oleh gunung-gunung yang berkembang dari batuan sedimen dan batuan beku basa.
Iklim
Kabupaten Halmahera Utara dipengaruhi oleh iklim laut tropis yang terdiri atas tiga musim, yaitu:
  • Musim hujan pada bulan November sampai dengan Februari
  • Musim kemarau pada bulan April sampai dengan bulan Oktober
  • Musim Pancaroba pada bulan Maret dan Oktober
Adapun curah hujan di wilayah Kabupaten Halmahera Utara berkisar antara 1.500-4.500 mm per tahun. Curah hujan tertinggi (2.500-4.500 mm per tahun) dapat dijumpai di Galela dan Loloda Utara dengan tipe A sampai C menurut Klasifikasi Oldeman. Curah hujan terendah (1.500-2.000 mm per tahun) dapat dijumpai di Tobelo Selatan, Kao, Malifut dan Kepulauan Morotai, menurut klasifikasi Oldeman termasuk tipe Dl (4 bulan basah berturutan dan 1 bulan kering).
Administrasi
Kabupaten Halmahera Utara terbentuk pada 31 Mei 2003 berdasarkan UU No. I Thn 2003. Secara Administratif, wilayah kabupaten ini terdiri terdiri dari 9 (sembilan) kecamatan dan 174 desa. Sembilan kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Loloda Utara (21 desa), Kecamatan Morotai Utara (17 desa), Kecamatan Morotai selatan (17 desa), Kecamatan Morotai Selatan Barat (13 desa), Kecamatan Galela (23 desa), Kecamatan Tobelo (13 desa), Kecamatan Tobelo Selatan (13 desa), Kecamatan Kao (41 desa) dan Kecamatan Malifut (16 desa).
Setelah penetapan Bupati dan Wakil Bupati defenitif maka jumlah kecamatan dimekarkan menjadi 22 kecamatan, yaitu:
  1. Galela
  2. Galela Barat
  3. Galela Selatan
  4. Galela Utara
  5. Kao
  6. Kao Barat
  7. Kao Teluk
  8. Kao Utara
  9. Loloda Kepulauan
  10. Loloda Utara
  11. Malifut
  12. Morotai Jaya
  13. Morotai Selatan
  14. Morotai Selatan Barat
  15. Morotai Timur
  16. Morotai Utara
  17. Tobelo
  18. Tobelo Barat
  19. Tobelo Selatan
  20. Tobelo Tengah
  21. Tobelo Timur
  22. Tobelo Utara
Sementara itu jumlah desa dimekarkan menjadi 254 desa.
Tetapi pada 29 Oktober 2008, dibentuklah Kabupaten Pulau Morotai, sehingga kecamatan-kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara tersisa sebagai berikut:
  1. Galela
  2. Galela Barat
  3. Galela Selatan
  4. Galela Utara
  5. Kao
  6. Kao Barat
  7. Kao Teluk
  8. Kao Utara
  9. Loloda Kepulauan
  10. Loloda Utara
  11. Malifut
  12. Tobelo
  13. Tobelo Barat
  14. Tobelo Selatan
  15. Tobelo Tengah
  16. Tobelo Timur
  17. Tobelo Utara
Sejarah
Kabupaten Halmahera Utara terbentuk pada 31 Mei 2003 berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)