Sabtu, 31 Desember 2011

Sajak Si Singamangaraja yang mati diterjang peluru HAMISI dari Tobelo Halmahera


Akulah Si Singamangaraja Nyala di Bakara Redup di Balige
Kau menjamah perihnya
Tapi sebelum itu Tanah kerontang hangus harap
Di ujung pematang terban lapar
Dan susut danau ingati gelepar ikan mati Sejak malam tersaruk mimpi sekarat
Dihangati jubah-jubah hujan langit TobaHingga bulir padi menggemuk madu
Dan bernas beras di mamah mendidih
Berbuncah suara jiwa rongga merdeka
Sambil membajak tengah malam
Menyelami danau ikan-ikan jelita
Dan mendendang ranum nafas
Di pagar desa sinar sore
Parade gondang dan serunai
Moyang yang mengurapi para cucu
Berpinak di negeri seberang di antara raung ternak dan kecipak udang istirah
Menanduk betis lembut para gadis
Sebelum dipinang pemuda lembah tujuh malam
Menunggang kunang-kunang kerbau dan kambing
Bermerah sirih bergula pinang
Dan syair puji berkas bulan berkening cahaya rambut menjuntai ke pinggul gempal
Bergoyang seperti lembu bunting mengejar
Retakan waktu 1875 di taman batu masa depan
Menuruni gelisah undakan kenangan sebab kalian milik masa lalu dan masa datang

2

Aku jadi raja kaumku, mengitar lembah membilah bukit merimbun rimba
Menubir danau menyiku lagu ngilu jarum doa berjatuhan
Menisik nama-nama disebutkan menyuruk hari panjang terpejam
Tapi itu dulu kata mereka, Tapi itu kini kata mereka
Aku tak tahu apa mereka menyesatkannya di balik surya bukit tanah Batak
Menggugus jemari angin
Mengisar tembus ke bening mata
Sebagai runcing keris panjang si Piso Gajah Dompak
Semerbak kubur pagi hari
Tapi setelah itu, Tapi sebelum itu
Aku tak tahu mereka rindukan ubi bakar di ladang
Ketika panglima bersurban hanguskan Rumah Bolon

3

Karena kakek tak berpikir bak mereka
Karena kakek ingin mengigal seperti kakek dan kaumnya menjelang topan malam turun sebagai putraBatak abadi, dan si putih mata dari Eropa memberangus Ruma Parsantian
Sopo Bolon, Sopo Godang, Bale Pasogit, Bale Partangiangan, Bale Adat Paruhuman, Bale BiusPartungkoan, Mengusir kerabat mengejarku ke tanah seberang
Bersama angin liar 30 tahun
Karena si putih mata dari EropaTerus menggedor gelombang terjauh
Di balik benua malam, Tak menemukan bentanganTanah Batak dalam peta jarahan

4

Tapi sebelum itu, Tapi sesudah itu
Aku tak tahu mereka tersengat kilatnya
Kuletupkan api harga diri, Kuletupkan api harga diri
Menetak pedang pasukan berkuda dan bersenapan
Tulang keras ditikam kelewang, Serakah tuntas ditebas adat
Aku tak tahu mereka berjaga, Aku tak tahu mereka berjaga
Di lembah Butar, Di Lobu Siregar, Lintong ni huta, Pohan, Naga, Saribu, Simamora, Simalungun, Uluan, Asahan
Pasukan berkuda hilang nyawa
Di teluk Samosir Balige, Laguboti, Bakara
Pasukan perahu menggelucak darah
Lihat, lihat, tak pernah berdenyut takut menghadang tajam peluru dari Eropa
Sebab darah bergolak leluhur
Menyiram kubur sahabat hingga waktu tengadah abadi
Tapi sebelum itu, Tapi setelah itu
Mereka bakar rumahku, kampungku, adatku. Mereka remuk kerabatku, sukuku, anakku
Cucuku

5

Dan lihat Si Singamangaraja
Si kuda putih berlari menembus pasukan si putih mata Christoffel
Prajurit Jawa dan Padang.
Hingga Hamisi Tobelo Halmahera
Sucikan peluru terpilih untukku
Bidik, Bidik
Dan nyawa meregang darah dua bola mataku
Menghangati panglima dari Aceh
Patuan Nagari, Patuan Anggi,
Boru Lopian terjungkal pelurudi Sitapongan Sionomhudon setelah si Pulo Batumenggelepar lapar di rimba gerilya
Dan sungai darah terus berdebur ke tanah Batak Menunggu siapa berlayar
Ke tanjung harap
Hingga setelah ini, Hingga setelah ini
Aku tak tahu mereka dengar jeritnya
Ketika sajak ini diigaukan***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)