Minggu, 25 Maret 2012

TEORI SOSIAL KOTA

Teori: Sebuah system konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan antara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena.
- Social: Umum (general).
- Kota: Sebuah daerah dengan kepadatan penduduk tersendiri.
Teori-teori social sehubungan dengan teori kota.
- Teori social Marx.
Teori social Marx telah menekan pada perkembangan masyarakat yang ditinjau dari segi atau sudut pandang ekonomi politik. Masyarakat tidak lain merupakan hasil dari perkembangan kerja manusia dari yang primitive hingga yang paling modern.
Teori perkembangan kota menurut Spiro Kastof bahwa kota adalah leburan dari bangunan dan penduduk, sedangkan bentuk kota pada awalnya netral. Tapi kemudian berubah sampai kemudian, hal ini dipengaruhi dengan budaya yang tertentu. Bentuk kota ada dua macam yaitu geometric dan organic. Terdapat dikotomi bentuk perkotaanyang didasarkan pada bentuk geometri kota yaitu planned dan unplanned.
1. Bentuk planned (terencana) seperti contohnya pada kota-kota Eropa abad pertengahan dengan pengaturan kota yang selalu regular dan rancang bentuk geometric.
2. Bentuk unplanned (bentuk yang tidak terencana) banyak terjadi pada kota-kota metropolitan. Dimana satu segmen kota berkembang secara spontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling mengisi, kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan originale pattern.
Di dalam suatu kota organic, terjadi saling ketergantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan social. Contohnya jalan-jalan dan lorong-lorong menjadi ruang komunal dan ruang publikyang tidak teratur tetapi menunjukkan adanya kontak social dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli dan pendatang, antara kepentingan individu dan kepentingan umum.
Perubahan demi perubahan fisik dan non fisik (social) terjadi secara spontan.apabila salah satu elemennya terganggu, maka seluruh lingkungan akan terganggu juga, sehingga mencari keseimbangan baru. Demikian ini terjadi secaraberulan-ulang. Di dalam model oranik ini, organisasi ruang telah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang memiliki fungsi masing-masing. Kota terbentuk organic mudah untuk mengalami penurunan kualitas karena pekembangannya yang spontan tidak terencana dan sepotong-sepotong. Masyarakat penguin kota bermacam-macam yang merupakan pencampuran antara berbagai macam manusia dalam suatu tempat yang memiliki kseimbangan.
Berdasarkan kedua teori diatas maka dapat kita katakana bahwa kota berkenaan dengan segi ekonomi dicirikan dengan hidup non agreris. Kota memiliki fungsi khas lebih cultural, industry, dan perdangangan.
ISU-ISU SOSIAL KOTA
- Pengaruh kesenjangan social terhadap kota.
Manusia menjalani kehidupan di dunia ini tidaklah bias hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh perhatian dan bantuan orang lain, maka dari itu manusia disebut sebagai makhluk social.
Oleh karena itu,kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sebuah kekuatan untuk mencapai kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan di desa maupun kehidupan di kota. Tentu itulah harapan kita bersama. Tapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini jauh dari harapan dan tujuan pembangunan nasional Negara ini, kesenjangan social yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Situasi kota yang padat memaksa warga kota untuk bergerak lebih dinamisuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masalah diperkotaan adalah pertambahan penduduk yang tidak terkendali, tingkat kesadaran masyarakat dan kepedulian masyarakat kota terhadap lingkungan disekitar itu, diamana dia yang buat maka dialah yang berkuasa dan yang lemah pasti akan tertindas. Tidak ada lagi yang namanya tepo seliro.tejadilah kesenjangan social yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam sector perkotaan, diaman orang hanya akan memperdulikan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain lagi.
Kesenjangan social adalah jarak yang terjadi ditengah-tengah masyarakat disebabkan oleh perbedaan status social maupun status ekonomi. Selain factor pendidikan, factor utama adalah dari segi ekonomi yang menyebabkan kesenjangan social antara masyarakat.
Banyak orang kaya memandang lemah kepada orang golongan bawah, apalagi jika orang itu miskin atau kotor, jangankan menolong, melihat saja enggan.disaat banyak anak-anak jalanan yang tidak punya tempat tinggal dan tidur di jalanan, namun masih banyak orang-orang yang berleha-leha tidur di hotel berbintang. Banyak orang diluar sana kelaparan dan tidak bias member makan kepada anaknya tapi banyak pula orang kaya yang sedang asyik menyantap berbagai makanan enak yang harganya mahal.
Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap perkembangan kota. Bagaimana kota bias maju jika masalah sekecil ini tidak bias diatasi. Anak jalanan tidur dimana-mana, gelandangan dimana-mana, tentu fenomena ini mempengaruhi unsure estetis estetis dari sebuah kota.
Dualism si kaya dan si miskin memang akan selalu ada mendampingi kehidupan manusia namun idealnya seharusnya ada interaksi antara keduanya sehingga akan timbul harmonisasi social ekonomi yang baik. Namun kenyataanya di negeri ini si kaya dan si miskin terdikotomi dalam kasta social kaku yang memisahkan mereka. Sejak orientasi pembangunan yang terlibat pada konsep trickle down effect diaplikasikan ke orde baru, ketimpangan structural terjdi akibat pembangunan yang tidak merata. Sejak saat itulah kesenjangan social yang signifikan tercetus.
Sekarang tinggal pemerintah kota sendiri bangaimana mau menanganinya. Apakah kota tersebut mau dijadikan kota komersial, kota budaya, atau kota industry sehingga karakteristik kota tersebut ada. Kota dianggap dapat memenuhi kebutuhan semua orang karena berbeda dengan desa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak (Like & Coment)